Bundo Ala Padang


Bundo Ala Padang

Baju atasan putih, dengan bis warna hijau pada kedua kantong saku depan dan lapisan warna hijau di bagian dalam pada krah sanghai, serta dipasang dua atribut berbahan sulaman pada sisi lengan kanan samping bahu; pertama tulisan kementrian agama didesain  melengkung bertinta hitam dengan dasar kuning keemasan,  d bagian bawahnya ada logo ikhlas beramal didominasi warna hijau daun itu sudah ready _ dicuci disetrika tergantung pada hanger, siap pakai saat hari H upacara HAB kemenag ke 77 tepatnya 3 Januari 2023.

Qodarullah,  pukul 02.24 di Ahad 1 Januari 2023, seorang kawan berbagi surat edaran terkait upacara HAB melalui wag Wasmad, ketika dibaca dan dicermati, ternyata untuk pakaian hari "H" dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama menggunakan baju adat nusantara, kelompok 2 hitam putih, kelompok 3 menggunakan korpri, kelompok 4 baju batik serta kelompok 5 full dress( penerima penghargaan satya lencana).  Adanya pengelompokan itu jujur sempat membuat kegalauan para pengawas.  Pasalnya baju yang sudah ready tak jadi dipakai, dalam waktu 2x 24 harus diganti ke pakaian adat.

Di grup wasmad beberapa bapak sudah mulai memosting foto-foto baju adat yang lumayan simpel untuk dikenakan. Rupanya mereka sudah browsing-browsing mencari baju yang tepat untuk dikenakan. Sebaliknya ada juga wasmad yang menyarankan jika tak dapat pakaian adat, ikut kelompok hitam putih atau korpri saja. Tapi  rasanya tidak nyaman jika langsung menyerah sebelum berusaha.

Tak mau ketinggalan, dan juga mengusir kegaulaun, diam- diam saya pun ikutan browsing baju adat nusantara, mencoba akan memadu madankan dengan baju sendiri yang ada. Susah juga ternyata mengingat kebaya hanya punya satu-satunya.

Seperti ada yang menggerakan, jemari yang masih memegang gawai , sekitaran pukul 09-an di 1 Januari 2023, ibu jari kanan menuju pada nama sahabat lama, intinya curhat tentang pakaian adat. Rupanya Allah menunjukkan jalan yang benar, kawan saya itu spontan nyanggupi jika hari itu juga  seseorang  siap ngantar  baju adat.

" Ndak usah diantar bsok kuambil sendri"

Begitu pesan chat wa saya, lalu saya tinggalkan gawai menuju rumah adik yang jaraknya hanya 100m di depan rumah. Kumpul- kumpul saudara yang berdatangan, kebetulan adik memiliki cucu yang usianya baru sepekan.

Begitulah cara Allah memudahkan setiap urusan seperti air mengalir, sore jelang magrib seperti yang dijanjikan, pakaian adat serta pirantinya benar- benar diantar. Tak menunggu esok hari tak harus saya sendiri yang mengambil. Bonusnya lagi datang bersama kejutan yang tanpa diduga sama sekali. Pengantarnya  merupakan 2 pasang suami istri sahabat kala kuliah diploma Unej, serta putri kedua pemberi pinjaman, tak ketinggalan juga buah tangan.  Masyaallah, nikmat mana lagikah yang akan kau dustakan?

Baju adat Bundo Padang yang saya kenangan kemarin itu, banyak kenangan yang ditorehkan tapi kata-kata saja tak mampu mewakili untuk mengungkapkannya. Ketulusan sahabat memberikan pinjaman, mendaulat sahabat lain mampir/ mengantarkan ke rumah sungguh merupakan rejeki yang tiada tara. Juga kawan yang tanpa diminta memberikan tumpangan mobil saat di kepala sudah  terbayang bagaimana ribetnya jika naik motor dengan berbusana adat pulang pergi ke tempat acara, serta mereka yang ikut andil dalam memasangkan piranti untuk kepala saya, kemarin di halamanan MAN tepatnya di bawah pohon pucuk merah. Terima kasih atas segalanya, hanya Allah yang akan membalas segala kebaikan Anda .

Bondowoso, 4.01.2023
Husnul Hafifah

Berkarya Ketika Senja Merona

Berkarya Ketika Senja Merona

Oleh Husnul Hafifah 

 Judul Buku : Merona Senja ( Kumpulan Cerpen 
Penulis : Sri Ariefiarti Wijaya, S.Pd Editor : Nelfi Harmi Penerbit : CV Pustaka Media Guru 
Edisi : Cetakan Pertama, Juli 2020 Tebal : Vii + 112
Ukuran Kertas : 14,8 x 21 cm 
ISBN : 9786232722064 
Peresensi : Husnul Hafifah 

 Buku bercover didominasi warna merah kecoklatan ini, terlihat begitu serasi dan ekspresif mengambarkan tulisannya, “ Merona Senja”. Suatu gambaran tentang suasana sore menjelang petang yang ditandai dengan rona warna kemerahan di batas cakrawala. 

Buku "Merona Senja" ( kumpulan cerpen) ini , karya Sri Afiefiarti Wijaya, S.Pd. Seperti yang tertera pada profil, penulis merupakan seorang guru bahasa Indonesia, di salah satu lembaga pendidikan pada lingkungan Kemenag Kab. Bondowoso, tepatnya di MTsN 2. 

 Penulis dalam kata pengantarnya menjelaskan jika obsesi untuk menulis buku sudah ada sejak lama. Namun nyalinya baru terbakar ketika Bu Wiji _begitu nama panggilan dari para muridnya, mencoba mengikutsertakan salah satu cerpen yang biasanya ditulis hanya untuk dibaca kalangan sendiri (suami dan kedua putrinya, yang juga guru bahasa Indonesia) menjadi juara l pada ajang lomba cerpen antarguru di tingkat kabupaten. Semenjak itulah ia mulai mengumpulkan cerpen-cerpennya untuk dibukukan.

 Bagi si penulis terbitnya buku “Merona Senja” ini sekaligus juga sebagai jawaban atas kegelisahannya dalam bersastra, yang pada akhirnya sebuah karya sastra lahir saat usia penulisnya mulai merangkak senja Pun  begitu  masih tetap terpikir untuk bisa memberikan sesuatu yang bermakna, setidaknya bagi keluarga tercinta juga para peserta didiknya. 
Semangat bersastra yang ditandai dengan terbitnya kumpulan cerpen ini, seperti yang disampaikan  pada kata pengantar, dijadikan sebagai pelunas hutang pada para peserta didiknya mengingat sebelumnya _puluhan tahun ia berbagi dedikasi hanya sekadar memacu anak didiknya untuk gemar menulis_bukti fisik “ teladan” menulis belumlah ada. 

 Membaca Buku Kumpulan Cerpen Merona Senja, yang terlahir dari pena seorang wanita, pembaca seakan diajak untuk menyelami suara hati, konflik batin dan suka duka dari berbagai peristiwa yang dialami kaum wanita. Sepuluh cerpen dalam buku ini, sembilan di antaranya mengisahkah tentang wanita dengan segala kadar permasalahan yang berbeda-beda. Tema cerita diusung dari realitas sehari-hari asal lingkungan penulis baik itu di lingkungan sekolah saat ia menjalankan profesinya, di lingkungan rumah saat ia menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya serta sebagai kaum wanita pada umumnya ketika hidup bermasyarakat. 

 Kepekaan penulis dalam mengungkap hal sederhana dan faktual hingga menjadi jalinan peristiwa serta konflik yang dibangunnya menjadikan cerpen dalam 'Merona Senja' menarik serta mampu mengajak pembaca larut dalam suasana cerita serta mengaduk-aduk emosi pembaca.

 Kesepuluh judul cerpen dalam Merona Senja secara berurutan :1) Ublik, 2) kupu-kupu kuning, 3) 365 Hari, 4) Yang Terbuang, 5) Cerita Dinar, 6) Cadar Afifah, 7) Kupu-Kupu Bersayap coklat, 8) Merengkuh Hati, 9) Bejo dan Wage dan 10) Kana Si Bunga Tasbih. 

 Hal lain yang menarik dari buku kumpulan cerpen ini adalah pada teknik membuka yang diaplikasikan. Ada beberapa teknik membuka yang digunakan penulis antara lain penggunaan penggalan lirik lagu seperti pada cerpen “Ublik” 

 Kemana, kemana, kita pergi bersama Jangan jauh- jauh kita ke Monas saja… 

 Potongan syair lagu lama Roma Irama itu sudah terlalu dihapal oleh Giman yang hanya memiliki tak lebih dari 10 kaset tua untuk disetel pada tape using keluaran tahun 80-an….

 Merona Senja ( kumpulan cerpen ) hal 1 

 Sedangkan pada cerpen” Kupu- Kupu Kuning” digunakan teknik membuka dengan penggalan puisi 

 Ibuku, 
Adalah perempuan yang melukis pelangi di langitku 
Perempuan yang mewarnai hidupku, memberi napas 
Hingga aku bisa menghirup hidup Ibuku,adalah kupu-kupu kuning yang cantik 
Sayang,badai telah mematahkan sayapnya
 Ibuku adalah… 

 Puisi itu tak selesai ditulis di kertas berwarna biru terang. Kulihat di sudut kanan atas tertera nama Laras. Yah laras adalah muridku yang berwajah manis…. 

 Merona Senja ( kumpulan cerpen ) hal 11 

 Selain teknik membuka di atas, pada kumpulan cerpen ini juga menggunakan teknik kalimat langsung atau dialag antartokoh, menggunakan narasi atau paparan baik itu paparan tentang suasana berupa setting tempat, waktu maupun suasana hati para pelaku. 

Penggunaan teknik membuka yang bervariasi pada cerpen menjadikan cerpen tidak monoton, cerpen lebih menarik serta pembaca tidak bosan untuk terus membaca dari satu cerpen ke cerpen lainnya hingga tuntas. 

 Cerita tentang kehidupan sejatinya seperti jaring laba-laba. Beraneka peristiwa yang membentuknya dijalin hingga menjadi satu jalinan utuh, dan itulah kehidupan. Merona senja, kumpulan cerpen yang begitu sederhana dalam gaya penceritaannya, namun mampu mewarnai langit meski sudah senja, hingga berwarna jingga. Cerpen -cerpen yang disuguhkan pada pembaca memberikan kekayaan hidup dan pengalaman belajar agar lebih bijaksana _menjadikan jingga merona. 

 Buku Merona Jingga saya rekomendasikan Anda untuk membacanya. Jadikan sebagai khasanah literasi di sekolah/madrasah utamanya pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA.

 Salam literasi 
 Bondowoso, 18.12. 2022

Mengikat Makna Peristiwa

Mengikat Makna dari Peristiwa


Menulis apa ya hari ini? Kalimat ini sedari tadi muter muter di kepala. Perasaan baru kemarin saya setor tulisan, eh tahunya sudah sepekan. 

Hari ini sudah waktunya setoran lagi.😅😅😅 Wajib ya ? Untuk sebuah komitmen diri, setor tulisan itu, menurut pribadi saya, wajib hukumnya. Lha terus klo tidak setor apa dosa? Dosa mungkin juga tidak. Tapi bagi saya tidak setor itu tetap berhutang, hutang janji pada diri sendiri. Namanya hutang, ya mesti dibayar donk? Ya iyalah...eit, hutang uang aja kadang ndak bayar apalagi cuma hutang tulisan? 😇😇😇

Stop! daripada debat kusir bisa pusing nih kepala. Mending saya nulis saja. Saya curhat saja. Curhat tentang pekerjaan yang tak kunjung usai. Bagaimana dengan Anda? Apa sama pekerjaannya tak juga selesai?

Masuk Desember, (usai PK kepala madrasah yang dilanjut dengan PK Wasmad, saya pikir  pekerjaan sudah  melandai eh ternyata pikiran itu tak searah jarum jam.

Dua PK ini saja , sudah benar-benar menguras energi dan tenaga. Touring dari satu madrasah ke madrasah lain yang nyaris sebulan penuh, lalu  menyiapkan berkas laporan pekerjaan periode Januari sd. November untuk menghadapi PK wasmad ( audit ) oleh tim penilai ubun-  ubun langsung panas rasanya. 

Allah itu, benar-benar Maha Segalanya, Alhamdulillah_  tim penilai yang semula dikabarkan dari kanwil, ternyata diralat cukup tim penilai kabupaten saja. Ubun- ubun panas pun beringsut mereda.

Panas di ubun memang mereda, tapi masuk  Desember pekerjaan masih terus merayap saja ?  Ini gegara ada target pekerjaan November yang tidak terlaksana. Di bulan November agenda PKG seharusnya sudah di rampungkan oleh kamad. Nyatanya saat ditagih, pengumpulan file hasil PKG lewat wa sepi-sepi saja responnya. 

Semula PKG itu dilaksanakan wasmad bina. Namun sejak adanya perubahan regulasi PKG beralih pada kamad. Wasbin hanya bertugas melakukan pendampingan, menghimpun data, menganalisis dan menyusun laporan.

Sepinya respon itu, mau tidak mau wasbin harus turba. Ya mau gimana lagi, masih bagian dari tupoksi. Penjelajahan dari satu madrasah ke madrasah terus dilakoni, dijalani walau  jenuh  dan bosan kerap menyapa diri.

" Maaf bu, Pak kepala tidak ada, beliau masih bimtek PKB"
" Maaf bu, operator masih menyelesaikan cut off emis"
"Maaf, maaf dan maaf"

Memang sejak awal November ada beberapa kepala madrasah yang mengikuti bimtek PKB, dan operator madrasah sibuk dengan penyelesaian data emis. Tapi bukankan sejak awal sudah disampaikan jika PKG itu tidak harus dilakukan oleh kepala madrasah atau juga operator? Madrasah harus menunjuk tim penilai PKG tersendiri?

Begitulah kondisi riel di kebanyakan madrasah swasta.  Kepala atau operator menjadi satu satunya tumpuan pekerjaan. Menjadi orang serba bisa, yang lain hanya mengajar saja. Jika kamad / operator berhalangan alamat pekerjaan bertumpuk- tumpuk. Tugas-tugas administrasi diabaikan. Lalu dikerjakan rapelan saat ada momen tertentu, seperti Akreditasi dan PKKM. 

Sampai hari ini entah sudah berapa kata maaf yang sudah saya  dapatkan. Kecewa? so pasti ada, tapi kadarnya tipis -tipis saja. Marah? Jangan sampailah, kasihan juga. Pengelolaan madrasah swasta _terlebih jauh memencil di pelosok desa. Jangan dibayangkan seperti madrasah swasta di perkotaan yang mendapatkan dukungan penuh dari wali/orang tua baik finansial maupun moriel dari orang tua/ wali murid. KBM berjalan dengan baik, tugas-tugas manajerial dikerjakan sudah Alhamdulillah. 

Kepala madrasah swasta, hanya label dan tupoksinya saja yang sama, tapi kesejahteraannya masih selalu tanda tanya?😭

# Megalitikum 07.12.22
    Husnul Hafifah

Cinta Sang Kekasi




Cinta Sang Kekasih

Husnul Hafifah

Genang mata air soca
Adalah bendung kecewa yang tertahan
Gemuruh ruang dada
Adalah beban yang melesak seakan ingin meledak

Lunglai raga hati merapuh
Mengucur peluh ke penjuru tubuh
Sangkanya kikis habis
segala harap musna tak bersisa
Selubang hampa tlah bersarang merobek robek asa _cinta Sang Kekasih

Wonosari, 23.11.22

Fanservis


Fanservis

Enam purnama sudah lewat.Kepergian pasangan Tun & Kin pasca menikah untuk berbulan madu yang tak berkabar berita hingga kini membuat hati para fannya _ selebbitunkin_galau. Selain rasa penasaran yang luar biasa pada aktivitas sang idola juga rasa rindu yang kerab melanda, para fan cemas , takut terjadi sesuatu yang buruk  menimpa mereka.

Sudah menjadi rahasia umum rasa aman dan nyaman di negeri tercinta  terusik. Begitu banyak peristiwa mengejutkan, terkadang miris hingga  tragis silih berganti mewarnai sekitar kita. Seperti pembunuhan ibu dan anak di jalan Cagak yang tak mampu diusut dengan tuntas siapa pelakunya, penembakan polisi oleh polisi yang bertele-tele hingga kini tersebab  CCTV-nya mati. Ditambah berita viral sekaligus membelalakkan mata para netizen adanya kasus KDRT yang menimpa istri pasangan artis yang selalu terlihat romatis dan harmonis di depan publik.

Yah seperti itulah kecemasan hati ini pada idola kami, Tun & Kin. Kami takut mereka mengalami kriminalisasi tanpa kami ketahui. Namun rupanya Tuhan mendengar dedoa kami. Disaat kepasrahan ini total kami dikembalikan kepada ilahi. Sebaris kabar yang begitu dinanti tetiba datang. Lewat sebuah postingan foto bercaption "Tunkin"sudah di rumah. Kutemukan siang tadi saat membuka IG. Tanpa aba-aba para fan selebbitujkin,  serentak mengecek keberadaannya pada aplikasi di gawai masing-masing. Alhamdulillah!

Bondowoso, 5.10.22
Husnul Hafifah

Menyibak Misteri Alas Purwo


Setelah berpuluh-puluh kilometer  menyusur Alas Purwo akhirnya sampai juga pada destinasi wisata pertama, yakni pantai Trianggulasi. Nama ini mengingatkan saya pada salah satu metode penelitian kualitatif, he he "triangulasi". Saya sendiri tidak paham apakah penamaan itu masih ada kaitan dengan metode pengukuran dengan menggunakan sifat-sifat segitiga  trigonometri. Ah entahlah. 

Penasaran dengan nama pantai itu saya mencoba melacak di Google, namun sayang saat memasuki Alas Purwo hingga masuk pantai itu, segala jenis signal tidak ada. Signal baru ada saat kami keluar dari Alas Purwo.

Nama Trianggulasi setelah saya lacak ternyata diambil dari monumen Trianggulasi, yang merupakan tugu penunjuk titik pengikat di area pengukuran dan pemetaan, yang terletak sekitar 500 m dari pantai utara. Konon masyarakat setempat sering menamai Tanggul Asri, karena sulit untuk menyebut Trianggulasi.

Memasuki Pantai triangulasi kami disambut gerimis. Awalnya kami abaikan rerintik kecil itu. Kaki ini terus melangkah menuju garis pantai. Pada area pintu masuk area pantai, terpasang papan peringatan keras, yang intinya pengunjung dilarang berenang." Nekat berenang siap mati" waw bikin bulu kuduk bergidik. Sebegitu angkernya kah? Kutelisik kalimat panjang di papan. Infomasi yang didapatkan sering terjadi korban tenggelam akibat terseret arus pecah di palungan.

Sejauh mata memandangi air laut, hati berdecak kagum. Biru, jenih dan air bersih! Kesan pertama menatap laut lepas itu. Mentari mencoba menembus awan tebal yang menutup penuh pemandangan langit, sungguh ciptakan suatu panorama alam yang sangat eksotik. Sebagaimana kelaziman pantai, hutan mangrove juga mengitari garis pantai. 
Sayang pasir pantainya yang berwarna krem keputihan dipenuhi puing-puing atau lebih tepatnya belulang pohon yang melapuk yang ditinggalkan hempasan ombak. Entah karena dampak covid , seakan area pantai kurang terawat. 

Belum puas diri menikmatinya, rerintik hujan membesar. Kami berlarian menuju bus. Tak sampai 15 menit memang kaki memijak sekitaran pantai yang merupakan ujung pulau Jawa ini.  Dari dalam bus kami melihat jika di dekat bus parker ada 3 gazebo besar untuk berteduh. Tapi apa boleh buat, kami harus melanjutkan perjalanan.

Savana Sadengan, destinasi kedua
yang kami datangi. Jarak dari Trianggulasi cukup dekat, namun saat memasuki jalan masuk Savana Sadengan kendaran tidak bisa melaju dengan cepat. Selain jalannya yang tidak diaspal atau makadam dan sempit, kendaraan tidak bisa berpapasan. Menurut info yang didapatkan jalan menuju savana memang sengaja tidak diaspal, mengingat sebagai bagian dari hutan konservasi yang dilindungi  BKSA (Balai konservasi Pelestarian Alam). Jangan heran pula jika disepanjang jalan menemukan pohon besar sampai melapuk dan dibiarkan begitu saja. 

Salah satu keberuntungan kami saat menuju Savana kami bisa melihat burung merak yang sedang melintas. Sayang tidak sempat mendokumetasikan si merak cepat -cepat menyelinap di semak belukar.
Savana Sadengan merupakan savana buatan dengan luas +-84 ha yang berada di ujung timur pulau Jawa. Bertujuan untuk monitoring dan konservasi sekaligus feeding ground bagi satwa perioritas yang hidup di padang rumput seperti banteng ( Bos Javanicus), kijang (Montiacus Muntjak) Rusa ( Cervus Monterensis) babi kutil ( Sus Verricusus) dan pelestarian berbagai burung seperti jalak putih (Sturnus melanopterus ) dan merak hijau (Pavo Muticus)

Di Savana Sadengan kami juga disuguhi pemandangan banteng yang sedang merumput dalam jarak yang cukup dekat. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alam sekitar melalui panggung berlangai 2. Di lantai  pengunjung bisa berswafoto, secara bergantian. Maksimal di lantai 2 hanya 15 orang.

Selain di panggung pengunjung bisa melakukan swafoto pada tempat yang tersedia. Tentu saja pengambilan spot foto harus tepat agar menghasilkan penampakan alam yang benar-benar memukau. Sebagai destinasi wisata sadenagan juga memiliki fasilitas yang cukup nyaman seperti sarana toilet yang bersih dan modern, musholla yang bersih, kantor juga kantin dan area parkir yang memadai. Puas menikmati keasrian dan pemandangan di Savana Sadengan bus membawa rombongan menuju Pantai Pancur.

Perjalanan menuju Pantai Pancur kurang lebih 3,5 KM. Jalanan menuju Pantai Pancur sudah hotmik. Namun kanan kirinya tetaplah merupakan hutan. Kadang di dominasi rumpun bambu kadang pepohonan lainnya. Sepanjang jalan kami di melihat kera berkeliaran di jalan, bergelantungan, melompat dari ranting ke ranting dari pohon ke pohon. 
Asyiknya menikmati perjalanan menyusuri hutan, rasanya begitu cepat sampai di area Parkir wisata Pancur. Dari tempat parkir menuju pantai harus berjalan kaki menuju Pos Pancur yang jaraknya sekitar 100m. Dari sini pengunjung bisa langsung ke pantai pancur atau lanjut ke Pantai Plengkung.
Kami dan beberapa kawan lebih memilih lanjut ke Pantai Plengkung. Menuju Plengkung harus menggunakan kendaran khusus/ armada wisata TN Alas Purwo jenis Trooper. Jasa antar jemput 1 mobil isi 7 orang biayanya Rp 250. 

Dari sopir armada kami diberitahu jika objek wisata belum sepekan dibuka setelah masa pandemi. Selama pandemi segala tempat wisata ditutup. Bahkan orang-orang yang ada di gua -gua/ pertapa di pulangkan. Di Alas Purwo ada ratusan gua, orang -orang yang berkunjung ke gua juga bermacam macam, tergantung niatnya, ada yang cari pesugihan, kedudukan, dan jabatan. Begitu cerita ngalor ngidul si sopir. Dia sebagai pendatang  baru, ikut istri menetap di wilayah Tegaldlimo katanya juga sedang cari "pesugihan" bertapa jadi sopir wisata TN Alas Purwo, kelakarnya. Lalu menurunkan kami di kawasan pantai Plengkung dan menunjukan arah menuju pantai paling ujung timur pulau jawa, yang jaraknya sekitar 600m dari kami berdiri.
Decak kagumku bertambah tambah melihat kemolekan Pantai Plengkung ( G_land). Seperti namanya Plengkung. Posisi garis pantainya melengkung. Pantai yang terkenal di manca negara sebagai tempat surfing karena ketingian gelombang ombaknya konon no.2 di dunia. Ombak di pantai Plengkung panjangnya bisa sejauh 2 km dengan ketinggian 6-9m. Plengkung (G-Land) merupakan surga bagi peselancar dunia.

Selain ombak dan kemolekan pantainya, ada yang unik dari pasir di pantai ini. Kawan saya yang jeli menemukan area pasir yang tidak terlalu luas mungkin hanya sekitar 1 atau 2 m,  bentuk pasir yang  ditemukan berbeda dengan pasir pantai umumnya. Pasir halus berbetuk bulat halus tapi padat mirip telur ulat pakan burung. Sebotol kecil tempat air minum jadi bukti uniknya pasir G-Land ikut dalam perjalanan pulang.
Usai dari G land, kami kembali ke Pos Pancur. Di sini kami langsung menuju toilet sekaligus melaksanakan Salat Duhur dan Asar jamak takdim di mushalla lantai 2. Waktu sudah mendekati pukul 14. Wajar saja signal lapar menyala. Kantin  yang hanya beberapa meter dari depan musalla jadi tujuan kami berlima berikutnya. Beda kepala beda selera. Ada bermacam menu makanan dari soto, mie, bakso, nasi tempong, rawon , pecel, ikan bakar dll. Siang itu pilihan saya jatuh pada soto ayam. Hem lapar sebabkan semangkok soto ludes tak tersisa. Alhamdulillah nikmatnya terasa.

Usai makan saya tak sanggup lagi menuruni tangga untuk menikmati pantai pancur. Saya lebih memilih hanya diam di atas mengitip pemandangan laut, yang terasa mulai menyengat. Keunikan dari pantai Pancur adalah adanya air tawar yang mengalir dari pancuran seperti air terjun mini mengalir ke laut. Inilah mengapa pantainya di sebut pantai Pancur.
Pengalaman seharian menyusuri Alas Purwo, menghapus image angker dan mistik alas purwo. Alas Purwo itu merupakan kekayaan alam Indonesia yang penuh pesona. Di dalamnya banyak sekali destinasi wisata yang patut dieskplor namun patut dijaga kelestariannya. Tips mengunjungi Alas Purwo itu sesuai niatnya, jika niat baik maka pulang dalam keadaan baik. Ibaratkan bertamu maka kita harus jaga sopan santun. Jangan melanggar larangan yang ada. Seperti pepatah di mana kaki berpijak maka di situ langit dijunjung. 

Bondowoso, 13.07.2022






 

 

Menyibak Misteri TN Alas Purwo


Dok.Pribadi 

Waktu kian mendekat, sesuai kesepakatan yang ditetapkan satu persatu peserta tur berdatangan. MAN Bondowoso dipilih sebagai titik kumpul pemberangkatan. Sederhana pertimbangannya, halaman nan luas dan aman, bisa dimanfaatkan sebagai penitipan kendaraan, begitu pendapat mayoritas rekan.

Pukul 03.00 tepat Jetz bus mini warna kuning yang akan membawa kami menuju wisata datang. Tanpa aba-aba  kami langsung naik menuju kursi sesuai denah tempat duduk. Tak perlu menungu lama 29 person terdiri 21 wasmad dan 8 anggota keluarga, dengan iringan doa yang dipimpin ketua pokja_bus mini pun bergerak melesat menembus dingin dan gelap sisa  penghujung malam.
 
Alas Purwo menjadi tujuan wisata kami. Wisata yang sudah direncanakan 2 tahun silam itu, baru kesampaian. Penundaan tersebab Covid-19 yang tak kunjung mereda. Alhamdulillah akhirnya giat ini bisa terlaksana. Tak mudah memang untuk mengakomodir berbagai keinginan dari banyak kepala. Pro kontara tentang destinasi wisata pastilah ada.

"Alas purwo? Ngapain di sana? Bukankah lokasi itu angker?" Begitu rata-rata pertanyaan yang mengemuka. Di image saya pribadi juga tentang Alas Purwo  tak jauh beda dengan rekan lainnya. Maklum saja dari kecil informasi itu yang terlanjur menancap. Gegara doyan sandiwara radio yang kala itu merupakan satu-satunya hiburan jadul seperti Saur Sepuh, Brama Kumbara, Mak lampir dll. Alas Purwo tersetting sebagai sebagai tempat berkumpulnya makhluk astral, seperti genduwo, demit, jin, tuyul kutilanak dll. Di samping itu konon  juga sebagai tempat mencari pesugihan, tempat pertapaan untuk mendapatkan kedikjayaan, serta klenik lain yang penuh misteri.

Kelihaian seorang teman yang kebetulan putra daerah Banyuwangi dalam mempromosikan destinasi wisata yang ada, akhirnya pilihan jatuh pada Alas Purwo dan sekitar. Bismillah niat ingsunnya  tadabbur alam dan refreshing. Rute perjalanan melalui alur selatan. Dari arah Bondowoso menuju Arjasa masuk jalan Banyuwangi.

Saya yang memiliki kebiasaan jika perjalanan jauh langsung merem, kali ini harus membetahkan diri untuk tak segera tidur, menunggu salat subuh yang dijadwal sekitar 1,5 jam lagi di Sempolan. Masuk daerah Garahan kami disambut kabut serta rerintik hujan di sepanjang jalan sepertinya hujan dari semalam. 

Pemandangan pasar yang kami lewati menjadikan mata ini hijau, sehijau warna sayuran seperti terong, labu siam, kacang panjang, selada air, sawi, kangkung yang terlihat begitu segar dan ranum. Geliat pasar di pagi buta itu mengundang lapar mata para emak yang ada di bus. Andai yang di lihat itu sudah endingnya perjalanan bisa dipastikan kami meminta pak sopir berhenti. Sayang ini masih awal perjalanan.

Semayup azan subuh sampai juga ke telinga kami. Pak Sopir segera mencari masjid terdekat. Masih di Sempolan saat bus berhenti tepat di halaman masjid. Belum sempat membaca nama masjidnya, iqomah berkumandang, kami bergegas menuju kamar mandi. Antrean kamar mandi tak dapat dihindari, kami para emak memburunya terlebih dahulu, baru kemudian berwudu. Sebagian kami jadi makmum masbub. Usai salat kami sudah ditunggu rekan lain untuk melanjutkan perjalanan, hingga lupa tak mencari tahu nama masjid yang kami singgahi untuk salat subuh itu.

Sejuk dan segarnya air wudu masih berasa, mata masih siaga mengamati nuasa pagi perjalanan. Mentari masih belum menampakkan diri, saat bus memasuki kawasan Gumitir. Halimun menuruni pepohonan di kanan kiri jalan. Jalanan yang berkelok kelok  seperti liukan ular memacu adrenalin kami. Ada rasa ngeri -ngeri sedap menikmati jalanan menanjak dan menikung di pagi buta ini. Lantunan dedoa keselamatan tak henti hentinya dilangitkan.

Untung saja jalanan masih lumayan sepi, di depan  bus hanya ada 2 atau 3 kendaraan besar beriringan. Sopir yang membawa kami rupanya penyabar, dan tak ada gelagat ugal-ugalan. Dia membawa kami dengan ekstra hati hati. Entah di tanjakan dan kelokan ke berapa dari bawah kulihat bahu kanan menuju BWI, longsor, dan belum ada  pengamanan kecuali police line yang terlihat samar. Mujur persis di posisi itu tidak ada mobil dari lawanan arah. 

Rongga dada terasa lapang saat bus sudah keluar dari jalur Gumitir. Pemandangan jalan yang semula dipenuhi pepohonan rindang kini beralih pada rumah rumah penduduk dan pertokoan. Saya tidak paham jalur atau nama jalan menuju BWI, yang saya ingat betul hanya lampu merah persimpangan menuju Jajag mengarah kanan jalan. Bus terus melaju dan kami patuh saja. Tetiba tour leader  memberi aba-aba untuk berhenti persis di halaman mini market. 

Di sebarang jalan tampak tulisan  "Warung Nostalgia". Rupanya inilah warung yang direkomendasikan untuk sarapan pagi. Waktu masih menujuk 06.20. Kami mengantre untuk mengambil sarapan. Di warung Nostalgia ini menu makan dipilih sendiri oleh pembeli.  Menu yang disediakan diantaranya ayam kampung lalapan, ayam pedas, pecel, rawon, soto, dan masih banyak lagi deretan daftar menunya. Sementara untuk minum ada teh hangat manis, tawar , jeruk panas , kopi hitam air mineral. Di warung ini juga memberikan layanan makan sepuasnya, citra rasa masakan juga tidak mengecewakan.

Kurang lebih 40 menit, acara sarapan pun usai. Kami pun melanjutkan tujuan. Entah karena sudah kenyang, kebiasaan saat naik kendaraan kambuh. Serangan ngantuk tak bisa dilawan. Segala kisah perjalanan tiba-tiba lenyap dari pandangan. Tau-  tau terdengar perintah ayo tour leardernya pindah ke depan.  Begitu kubuka mata di depan kulihat kanan kiri jalan sudah berdiri kokoh pepohonan tinggi dan besar.

 Bus membawa kami menyusuri hutan. Kuamati pepohonan yang ada kuhubungkan dengan memori, siapa tahu bisa banyak mengenali jenisnya.  Sepanjang jalan entah berapa kilo panjangnya kami disuguhi pemandangan alam berupa hutan yang didominasi kayu jati dan mohoni yang  besar mungkin sudah ratusan tahun usianya. Disela selanya rapat tumbuhan kecil atau perdu yang tak kutahu apa namanya.
Dok.Pribadi salah satu jenis pohon 

Sunyi dan sepi, kesan pertama saat masuk Alas Purwo. Tepatnya Taman Nasional (TN Alas Purwo) tak ada lalu lalang orang di jalan. Jalan menuju  alas yang tak seberapa lebar, hanya selebar kendaraan roda 4. Jika berpapasan salah satunya harus berhenti dan mencari area agak lapang. Aroma khas hutan dan semak belukar mewarnai perjalanan panjang kami. "Ini masih bibirnya" kata tour leader saat menanyakan kapan sampai lokasi. 

Di tengah perjalanan ada inseden kecil yang menimpa bus kami. Mobil putih Fortuner dengan plat nomor Jakarta datang dari arah berlawanan, Sopir bus sudah memberi jalan untuk Fortuner itu, bus pun merambat perlahan. Bunyi "Prak" rupanya gesekan tak terhindarkan.  Sopir bus dan penanggung jawab rombongan turun melihat apa yang terjadi. Akibat gesekan tak sengaja masing-masing kendaraan lecet. Sopir Fortuner awalnya menyalahkan sopir bus dan meminta pertanggung jawaban. Setelah  negosiasi masing-masing berdamai. Perjalanan pun dilanjutkan.

Tak berselang lama dari inseden akhirnya rombongan sampai di posko pertama. Di posko ini ketua rombongan melapor dan membayar biaya masuk. Saya sendiri tidak tahu berapa tiket masuknya, pembayaran sudah dihandle panitia. Tak sampai 5 menit urusan di posko selesai. Tapi sopir bus tak juga melanjutkan perjalanan. Rupanya kendaraan yang tadi serempetan mengekor perjalanan kami.  Kali ini terjadi lagi perdebatan panjang, katanya ada pihak lain yang mengompori agar tetap meminta pertanggung jawaban. Lagi -lagi berkat kelihaian beberapa rekan pengawas, dan memang tak ada unsur kesengajaan perdebatan kali ini pun berakhir dengan damai. 

Bersamaan  menunggu sopir dan beberapa rekan melakukan perundingan. Tepat di depan posko terlihat ada 2 mobil berhenti untuk membeli tiket. Terlihat 2 penumpang yang turun laki perempuan dengan pakaian serba putih khas pakaian umat Hindu. Dari pakaian yang dikenakan dapat ditebak mereka akan melakukan pemujaan. Tapi di mana? Apa di tengah alas purwo? Rasa penasaran itu mengusik benak kami. Tanpa disadari kedua mobil itu melesat dan lenyap dari pandangan kami.
Dok.Pribadi 

Perjalanan dari Posko kanan kiri jalan  diwarnai dengan pepohonan, yang sedikit beda adalah adanya rumpun bambu   yang menyelingi pohon-pohon besar disertai suara  binatang (serangga) liar. Di tengah menikmati panorama alam, jawaban akan rasa penasaran ditemukan. Dua mobil putih yang dijumpai di posko tadi sedang parkir di area bernama Pure Kawitan. Sebuah pure atau tempat pemujaan umat Hindu yang sudah terlihat sangat tua usianya, seperti tak terawat, berada di area hutan yang tak jauh dari tepi jalan.

Rombongan kami tidak berhenti di sini, sebab destinasi wisatawa TN Alas Purwo  secara berurutan  : Pantai Trianggulasi, Savana Sadengan, Pantai Pancur , Pantai Plengkung dan 2 destinasi wisata di luar TN Alas Purwo.

Bersambung..

Husnul Hafifah, 6 .06.2022