Tamu dan Kenangan

Hujan sudah reda saat saya mencoba mengeja segala nikmat yang telah dicurahkanNya sepanjang hari ini. Dari membuka mata hingga akan menutup mata malam ini. 

Alhamdulillah bersyukur  kehadirat Allah atas segala nikmat yang tanpa batas. Nikmat sehat yang tiada tara,  hingga dengannya  saya bisa menikmati dan menjalankan hidup dengan nyaman.

Salah satu nikmat rejeki yang tak disangka hari ini adalah kunjungan sahabat literasi ke  rumah. Jarak yang jauh tak jadi halangan membawa langkah kakinya  menyambung tali silaturrahmi. Bapak Ali Harsojo_ Gurusianer dan salah satu pegiat Rumah Literasi Sumenep (Rulis) pukul 08.00 tiba di rumah ditemani Ibu Dianna Ummijathie ketua Griya Literasi Bondowoso(GLB). Terasa seperti mimpi.

Berawal dari menulis dan ingin bisa menulis yang lebih baik,  Februari 2019 lalu saya ikut pelatihan menulis SaguSabu Mou Kemenag Bondowoso dengan Media Guru. Salah satu manfaat pelatihan itu saya tergabung dalam Gurusiana. Dari Gurusiana inilah saya mengenal tulisan Ali Harsodjo yang lebih kenal dengan nama pena Alee. Tulisan-tulisan sederhana,  ringan dan indah (serindah). Saya senang membacanya,  dan termasuk salah satu folowernya. 

Perkenalan pun berlanjut ketika teman SMP saya Dianna UmmiJathie membuat grup Wa Griya Literasi Bondowoso (GLB) yang kemudian dijadikan sebagai komunitas walau hingga sekarang masih belum berbadan hukum. Di komunitas inilah pak Alee banyak memberikan arahan dan bimbingan terhadap pergerakan dan pengembangan GLB. 

Kehadiran Pak Alee dan Bu Dianna ke rumah membawa kebahagian tersendiri bagi saya. Saya tidak menyia-nyiakan kehadirannya dengan berdiskusi santai utamanya tentang GLB ke depan, kiat menghidupkan literasi di madrasah, motivasi menulis dll. Bahkan bukan hanya dalam tulis menulis. Beliau juga banyak berbagi kebaikan sesuai kapasitasnya sebagai terapis herbalist, Alumni Sijil Herbalist Asean di Malaysia.

Menurut Pak Alee,  di pekarangan rumah saya kaya dengan tanaman herbal, hanya perlu kepekaan intuisi untuk dapat mengelolanya dengan baik. Dengan tanaman herbal seseorang bisa merawat dan menjaga kesehatannya tanpa ketergantungan dengan bahan-bahan kimia. Sayang saya tidak dikaruniai intusi yang sempurna tentang tanaman herbal yang ada di rumah. 

Namun begitu saya dan keluarga memanfaatkan tanaman yang sudah biasa atau diketahui turun temurun. Baik untuk sayur,  rempah dan obat. Misalnya kenikir,  kemangi, jeruk purut,  jeruk limau, blimbing wuluh,  jahe, sereh, sirih, mengkudu, sirsat dll.  Sedangkan untuk bunga-bungaan hanya dimanfaatkan sebagai penyejuk pandangan mata saja. Padahal bunga -bunga, anggrek,  keladi, dll. bisa untuk obat. 

Rupanya waktu 2 jam belumlah cukup mendiskusikan banyak hal. Perbincangan ngalor ngidul dengan banyak tema itu rupanya harus diakhiri,  walaupun belum berakhir.  Semoga masih akan ada waktu lagi berdiskusi. 
Hujan mulai merintik,  saat mobil jemputan untuk Pak Alee melanjutkan perjalanan datang.  Moment rintik hujan dan payung spektrum pelangi tak disia-siakan. Sesaat sebelum melanjutkan perjalanan beliau pun  melakukan swafoto sebagai cerita kenangan dari rumah saya. 

Pak Alee,  Bu Dianna terima kasih  atas kunjungannya.
 
Kota tape, 20.03.21
Husnul Hafifah

Kabar Itu Penting?

Foto dokumen pribadi
 
 Ada seuntai kalimat yang paling ditunggu seorang ibu. Saat anak-anaknya melakukan perjalanan misalnya. Ketika anak pamit plesiran,  kembali ke kostan  atau jika anak sudah berkeluarga ketika kembali pulang ke rumah sendiri usai mengunjungi orang tua_adalah kabar. Pemberitahuan jika diri kita sudah sampai tujuan dengan selamat. Hal ini sangat penting artinya bagi orang tua_ibu utamanya. Mereka akan merasakan lega, plong, resah gundahnya seketika sirna, begitu kalimat yang ditunggunya sudah sampai padanya. 

Pertama kali saya melihat bagaimana pentingnya kabar  sampai dan tidaknya anak pada tujuan,  ketika saya masih remaja. Nenek saya, punya kebiasaan mengantar atau melepas anak-anaknya yang pamit pulang atau bepergian di teras depan rumah. Para anak memohon restu, minta doa keselamatan, mencium tangan nenek. Ada pesan yang selalu nenek sampaikan usai mendoakannya. "Begitu sampai segera kasih kabar". Selalu  kalimat itu meluncur dari lisan nenek saat melepas kepergian putra putrinya. 

Saat itu saya menganggap permintaan nenek itu berlebihan. Bahkan pernah saya meledek nenek dengan mengatakan, "Baru di teras, orangnya masih ada sudah minta kabar", ujar saya sekenanya. Nenek tak kalah sengit membalas perkataan saya,  "Hei belum tahu rasanya jadi orang tua,  buktikan nanti ya, kalau Nenek salah potong ini lidah". Saya tertawa membayangkan bagaimana nenek akan berbicara jika tak ada lidah. 

Nenek biasanya tak bisa tenang, dan akan terus bertanya, hingga kabar tentang sampainya si anak benar- benar nyata. Kebiasaan nenek rupanya menurun pada ibu saya. Ibu juga tidak bisa tenang,  ibu juga akan kecewa dan marah jika saya atau adik-adik  bepergian, tidak segera mengabari. Ibu akan telepon atau mengirim pesan " Sudah sampai mana? " Kalau sudah begini  saya  sadar betapa berdosanya, sudah membuat ibu cemas dan gelisah hatinya.

Apa yang dirasakan nenek terdahulu, lalu dirasakan ibu, pada akhirnya, rasa itu sampai pada saya. Entah ini sudah kali keberapa. Setiap anak pertama atau anak kedua pamit kembali ke kostannya, rasa cemas dan khawatir, memenuhi hati dan pikiran saya.  Selama belum ada kabar pikiran saya  tak tenang. Upaya mengalihkan pikiran dengan beraktivitas lain, masih saja sama. Sebentar-sebentar melihat  jam dinding. Terlebih jika diprediksi sudah  sampai anak belum memberi kabar. 

Apa yang dirasakan nenek saat melepas pergi anak-anaknya kala itu,  sekarang saya alami. Saya juga memahami maknanya. Kelindan doa kadang belumlah cukup untuk menepis kekhawatiran dan kecemasan hati. Butuh penguatan atau penegasan atas apa yang kita pikirkan. Walau itu hanya dalam seuntai kata. 

"Ma, aku sampai, alhamdulillah". 

Plong rasanya!


Bondowoso,  17.03.2021
Husnul Hafifah

Catatan Kecil Giat MGMP

Catatan Kecil Giat MGMP

Untuk pertama kalinya di tahun 2021, Senin 8 Maret 2021 Kegiatan rutin MGMP tatap muka mapel Bahasa Indonesia Jenjang MTs. Kabupaten Bondowoso digelar. Pelaksanaan di MTs. Ataqwa Bondowoso, dihadiri 30 guru mewakili utusan masing-masing madrasah.

Sepanjang tahun 2020 kegiatan rutin bulanan nyaris vakum,  dalam catatan hanya ada 3 kali pertemuan, terakhir kali dilaksanakan November 2020. Larangan membentuk kerumunan guna mencegah penyebaran COVID19 salah satu alasan kegiatan tidak dilaksanakan. 

Ada beberapa catatan menarik dari kegiatan itu. Pertama kepala madrasah selaku tuan rumah, Ahmad Taufiqirrahman, S. Pd atau biasa disapa dengan Ustaz Taufik adalah murid saya ketika di jenjang MTs dulu. Sebagai guru sudah pasti merasa bahagia dan bangga menyaksikan murid yang pernah dididik dan dibimbingnya menjadi orang sukses.

Kedua sambutan yang ramah dan supel kepada hadirin saat itu. Berbagi pengalamannya  disampai dengan bahasa sederhana dan mengalir _semoga bisa menggugah para guru bahasa Indonesia untuk mengikuti jejaknya. 
 
Seperti yang disampaikannya, ustaz Taufik belum genap setahun menjabat sebagai kepala di MTs. Attaqwa, lebih tepatnya sejak Juli 2020. Sebelumnya  Ia adalah guru pengampu  mapel Matematika sekaligus waka Humas di MTsN 2 Bondowoso. Mengenalkan madrasah pada khalayak merupakan salah satu tupoksi humas. Liputan kegiatan madrasah, informasi prestasi siswa baik akademik dan non akademik selalu dituliskan di web madrasahnya kala itu. 

Berdasar catatan prestasi inilah kemudian, menurutnya dijadikan buku karya perdananya. Tujuannya sederhana jika ada orang bertanya tentang madrasahnya ia cukup menyebutkan judul bukunya, agar orang membeli dan membaca karyanya. Sejak 2018 hingga saat ini sudah ada 9 buku karya mandiri yang ditulisnya.

Sebagai kepala di MTs. Attaqwa ia juga mengajak para guru untuk bisa memberikan keteladan pada para siswa, dengan bergabung dalam penulisan buku Antologi maupun karya mandiri. Sedangkan untuk siswa MTs.Attaqwa setiap tahunnya siswa kelas IX, wajib  membuat buku Antologi cerpen dan ber-ISBN. Kebiasaan ini sudah berjalan sejak MTs Attaqwa mengeluarkan alumni pertamanya.

Itulah inspirasi wawasan dari kepala madrasah yang dibagikan pada guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Apa yang disampaikan tentunya tak ada tendensi untuk menyombongkan apalagi membanggakan diri,  tapi semata saling mengingatkan dan saling memotivasi. 

Jika guru dengan berlatar belakang pendidikan Matematika bisa menghasilkan karya buku, bagaimana dengan Anda yang berlatar belakang pendidikan bahasa Indonesia? Sudahkah Anda berkarya? 

Idealnya memang guru bahasa Indonesia lebih banyak menuliskan karya bukan sebaliknya. Namun apa mau dikata. MGMP bahasa Indonesia sudah memprogramkan memproduksi Antologi Puisi sebagai karya perdana. Target akhir 2020 kemarin seharusnya sudah naik percetakan. Sayang hingga saat ini naskahnya belum final. Peserta yang setor tulisan masih jauh dari harapan. Ternyata ketika ditanya mengapa tidak setor tulisan,  kebanyakan mereka takut menulis. Takut tulisannya jelek dan dicemooh. Mengingat anggapan masyarakat guru bahasa Indonesia lebih menguasai tata kalimat dan tatabahasa.

Takut merupakan beban psycologis sebagian besar guru bahasa Indonesia, untuk menulis dan melahirkan karya. 
Rupanya masih perlu pemotivator handal untuk membuang rasa takutnya. 

Sejatinya tak ada satu pun manusia yang sempurna, kesempurnaan itu hanyalah hakiki milik Allah Swt. semata. Mengapa kita menunggu kesempurnaan untuk berkarya? 

Bondowoso, 09.03.21
Husnul Hafifah

Bukan Mimpi

Usai sholat Dhuhur, Bu Keyshe bawaannya ingin rebahan saja. Mungkin pengaruh angin disertai  gerimis halus, yang menemaninya sepanjang perjalanan. Sebuah perjalanan menghadiri kondangan hajatan PP 24 km duduk diboncengan  suaminya terasa melelahkan. 

Tak butuh waktu lama, begitu Kepalanya ketemu bantal, pikirannya langsung melayang. Tak peduli lagi dengan lingkungan sekitar. Ruhnya berjalan -jalan di tengah peristiwa yang menegangkan. "Mama,  ini kenapa dengan laptopnya? "tanya putri bungsunya penuh kecemasan. 

Bu Keyshe memandanginya dengan tengang, seraya istigfar. Sepertiga layar laptopnya memutih. Mau menangis ditahan _malu rasanya. Mau memarahinya tak tega, kecemasannya sudah mewakili. Kepala Bu Keyshe  pun terasa berat seperti terhantam beban. Rasanya  tak sanggup, ia memikirkan nasib file dan  data penting di laptopnya. Tetiba perutnya mual -mual. Sadar yang dilihat bukanlah mimpi buruk di tidur siangnya, tetapi sebuah ujian kesabaran yang harus dilakoninya.

Bondowoso, 07.03.2021 

Maaf


Husnul Hafifah

Maaf hari ini kutakbisa penuhi janji itu
Aku sudah usaha semampu kubisa
Tapi aku takberdaya
Jerat ini kuat mengikat 
Langkah ini berat tetiba terhenti

Jangan kaupikir aku tak kecewa
Sangat! Seperti yang kaurasa
Tolong jangan kaulontar kata penghianat
Itu kian menambah luka _lara

Maaf, sekali lagi maaf
Hari ini ...
Kita  belajar lagi makna ketulusan


Rumah, 07102020

Angin Sepoi Di Tengah PKKM


Sibuk. Intensitas geliat kerja madrasah memasuki triwulan terakhir ini mulai meningkat.  Persiapan  penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM) masih belum rampung, sudah disusuli edaran kegiatan  lainnya. Belum usai baca satu edaran, disambung dengan  edaran lain. File di android bertumpuk. Belum sempat diunduh HP pun lalu eror.

Mulai edaran tentang Pelaksanan KSM online, Surat pengantar Juknis Pelaksanaan AKG,AKK,AKP berantai dari kemenag pusat, kanwil jatim dan kemenag Kabupaten. Menumpuknya agenda madrasah di bulan Oktober ini, terlebih pada kondisi covid seakan kian menambah beban pikiran sesiapa pihak terkait madrasah. Ya guru, kepala, operator, pengawas bahkan juga Kasi Pendma dkk.

PKKM misalnya, bagi madrasah swasta, terlebih madrasah kecil dengan jumlah peserta didik sedikit, pemenuhan bukti fisik atas  indikator kinerja sebagai kepala madrasah terasa rumit. Bukan hanya kerumitannya yang mereka rasakan.  Hati kecil sebagian mereka  berontak, membersit pertanyaan tak terduga juga sempat mereka lontarkan." Saya ini kan swasta, jika sudah di PKKM saya dapat apa?" 

He he bingung juga menjelaskannya. Sejatinya pada juknis sudah dijabarkan maksud dan tujuannya serta manfaatnya secara gamblang. Tapi ya itulah deskripsi itu belum memuaskan hatinya.

Lihat saja ekspresi salah satu kamad swasta mengenai  PKKM. Saya menemukanmya pada status wa yang memplesatkan PKKM menjadi Palengngen, Kekcetak, Kektengah , Mabuk. Ungkapan polos mereka, bisa jadi mewakili suara hati sebagian kecil. para kamad. Jika diterjemahkan dalam bahasa sederhana PKKM itu membuat pusing, membuat sakit kepala  karena stres dan tegang bukan melulu tentang berkas bukti fisik, tapi darimana biaya mempersiapkan segalanya. 

Emang nya PKKM ada biayanya? Tidak ada sih. Lha berkas-berkas bukti fisik pake apa? Guru-guru nglembur apa ya kerja saja? Ini bukan bulan puasa.( Curhat kamad, hemm). Lalu sakit pinggangnya kumat gara - gara gethu di depan laptop  mengumpulkan bukti fisik serta mabuk akibat kerja nonstop. PKKM, beginilah jika pekerjaan 1 tahun dibuat rapelan. 

Saya sih makfum atas kegalauan  mereka, Standar kinerja disamakan antara kamad ASN dan swasta, terlalu jomplang rasanya. Dari sisi tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sama -sama beratnya. Namun dari sisi pendapatan jelas sangat jauh perbedaannya. Inilah yang mungkin jadi satu  kegalauan yang mendasarinya. 

Pun begitu tak sedikit juga _mereka_ yang  bersemangat melaksanakan PKKM demi membenahi madrasahnya. Hal  yang menyejukkan hati mereka hanyalah keyakinan_kerja itu adalah ibadah, kerja adalah pengabdian, jika ikhlas dapat pahala_setiap rejeki sudah ada catatannya. Itu saja  yang menguatkan batin mereka_ para kamad dan guru madrasah swasta dalam memberikan dedikasi serta pengabdiannya bagi generasi penerus bangsa.

Masih tentang surat edaran, kabar baiknya Ahamdulilah awal Oktober muncul surat edaran hal  persiapan pelaksanan Bantuan Paket Data dan Bantuan Langsung Tunai tertanggal  2 Oktober 2020 yang diteken a.n Kepala oleh Kasi pendma. Ibarat angin sepoi di tengah kemarau. Sakit perut, sakit pinggang dan mabuk para kamad konon lenyap seketika. Mengubah wajah gerah nan kurang gairah jadi sumringah. BLT untuk GTK non-PNS madrasah semoga saja lancar dan tidak ada halangan yang membikin mereka kian galau apalagi lantas gusar. Aamiin.

Semangat GTK madrasah, mantapkan tekad menjadikan madrasah hebat bermartabat dan melesat.


Bondowoso,6102020
Husnul Hafifah

BLT Guru Madrasah Tahun 2020


Alhamdulillah rapat yang dipimpin langsung Kasi Pendma Sabtu, 3 Oktober 2020 di Pokjawas Bondowoso, menghasilkan beberapa poin penting, namun untuk poin-poin penting itu saya akan berikan penjelesan satu per satu sesuai sesuai perioritas  yang akan diselesaikan terlebih dahulu. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh kasi Pendma bahwa agenda kerja di bulan Oktober ini penuh namun pada sisi lain pendma lockdown karena ada keluarga staf yang terpapar covid. (Mari kita doakan terlebih dahulu semoga yang terpapapar segera sehat kembali) Praktis layanan pendam via online. -mohon pengertian dari semua pihak yang membutuhkan layanan pendma.

Salah satu target yang sangat mendesak penyesaiannya adalah tindak lanjut surat edaran dirjen pendis tentang batuan tunai langsung atau BLT bagi guru non PNS. Alhamdulillah  , sambil menunggu edaran resmi dari kemenag Bondowoso.  Saya berikan   bocoran tentang apa saja yang harus dipersiapkan guru madrasah non PNS. agar Anda semua sudah siap dengan persyaratannya.

Syarat penerima BLT:
1. Aktif mengajar dan terdaftar di simpatika.
2. Upload rek. bank ( kesepakatan Mandiri)
3. KTP dan No. HP
4. NPWP ( jika punya)

Catatan guru Non SI dan Tenaga kependidikan juga bisa. Syarat mengisi S 42 bagi yang belum mengisi atau isian datanya salah.Jadi para guru atau tendik yang memang benar benar aktif mengajar dan belum punya rekning siap -siap dan buka rek. di Bank Mandri. (Cepetan tidak pake lama) infonya batas akhir uplod data pengajuan BLT tanggal 11 Okt 2020.

Kepala madrasah  bertanggung jawab atas keabsahan data guru/tendik yang diajukan dengan menandatangani surat pernyataan bermatrai.

Catatan tebal  tuk kamad  agar tak salah usulan adalah   kata kuncinya  aktif mengajar aktif  di madrsah bagi tenaga kependidikan dan terdaftar di simpatika.

Untuk berapa besarannya dan berapa bulan serta kapan pencairan saya belum punya bocoran. Sabar ya 😊😊😊
Pada Surat edaran perintahnya hanyalah segera tindaklanjuti tidak muncul angka-angkanya.

Itu saja informasi tentang BLT guru madrsah yang bisa saya sampaikan, silakan ditindaklanjuti. Semoga urusannya diberikan kemudahan dan kelancaran, tetap sehat dan selalu semangat.

Poin penting berikutnya tunggu ya!

Salam
Bondowoso, 3102020
Husnul Hafifah