Ujung Pertengakarn
Mbok Ti
Mbok Ti Kecele
Perempuan tengah baya itu baru semalam datang. Mbok Ti, begitu kesehor nama panggilannya. Ia berniat lepas kangen dengan rumah tinggal, keluarga dan kerabatnya. Maklum saja dua tahun tak bisa mudik tersebab pandemi. Sejak pemberlakuan lockdown, pembatasan sosial berskala besar( PSBB), Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) yang terus mengalamai perpanjangan hingga berlevel. Tak ayal ijin cuti yang diberikan juragannya tuk pulang kampung selama seminggu dimaanfaatkannya semaksimal mungkin.
Usai menikmati sarapan pagi bersama anak dan cucu yang menempati rumahnya, Mbok Ti pamit hendak menggilir mengunjungi para tetangga sekitar rumah,tak ketinggalan juga menjenguk sahabat karibnya Mak Yas _saat keduanya berjualan sayur di pasar. Rumahnya di pojokan paling ujung masuk gang samping rumahnya. Mbok Ti sempat terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Betapa waktu 2 tahun begitu banyak memberi perubahan di kampung sekitarnya. Sepanjang jalan kampung terlihat bersih dan asri. Teras rumah tetangga sekitar penuh bunga aneka warna. Mbok Ti sempat ragu saat melangkah menuju teras tetangganya. Keraguan pupus begitu sambutan hangat dari balik pintu rumah riuh menyapa. Mbok Ti tak bosan, meladeni dengan riang pertanyaan yang intinya sama _bak foto kopi dari tetangga yang dikunjungi. Suasana akrab masih sama kendati 2 tahun mereka tak bersua.
Hari semakin siang, sinar matahari mulai menyengat, namun target Mbok Ti untuk menuntaskan kunjungan pada tetangga hari itu juga, tak menyurutkan langkahnya. Ia pun lanjut bertualang. Di depan gang menuju rumah Mak Yas, Mbok Ti melihat teman SDnya_Kang Narto hansip desa, yang tengah asyik ngobrol dengan seorang Polisi. Di balik kaca mata plus minus yang tebal, Kang Narto dengan baju hansipnya masih terlihat gagah. Dalam girang suara Mbok Ti pun kalah lebih cepat dibanding langkahnya. Dengan lantang menyapa Kang Narto, mengajak ngobrol walau jarak masih berapa langkah. Merasa yang di ajak bicara hanya melongo di balik kaca mata hitamnya. Mbok Ti mengeraskan volume suaranya, dalam hatinya menduga mungkin pendengaran sang mantan rusaknya kian parah. " To iki aku Suryati kon wes lali tah? Laopo caring, masio jaga keamanan warga iku ngiup oja panas panasan!" Mbok Ti nyerocos sambil menyalami Kang Narto. Ooalah bibir Mbok Ti mengatup seketika saat wadak berbaju hansip yang disalami hanyalah gombalan dan kain perca. Di kejauhan Mak Yas terkekeh melihat tingkah sahabatnya.
Bondowoso, 20.10.2021
Husnul Hafifah
#pentigraf
Usai Hujan
Tempias air hujan dari reranting pepohon sepanjang jalan, siang itu temani perjalanan pulangku. Ini kali kedua, jelang sebulan giat PKKM. Begitu akan usai agenda hari ini tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Alhamdulillah walau hujan lebat namun tak lebih dari 1 jam lamanya.
Ada yang berbeda dari perjalanan pulang hujan pertama dan hujan kali ini. Hujan pertama masih kentara dengan khas hujan di musim kemarau. Hujan hanya mengguyur di daerah tertentu saja. Usai hujan langit kembali cerah, bahkan di daerah yang tidak hujan, sinar matahari terasa sangat menyengat di kulit wajah.
Hujan kedua lebih merata, walau sudah reda, mendung pekat masih melingkupi langit. Genangan air hujan pada daerah tertentu menutup ruas jalan. Membasahi sepatu dan rok yang kukenakan. Tak hanya itu, sampah- sampah yang menimbun di selokan, menyumbat saluran. Debit air yang meluber ke jalan raya, sisakan serakan sampah merusak pemandangan.
Hujan sangat dirindukan saat daerah mulai kekeringan, tetumbuhan dan remputan kerontang kehausan. Kedatangan hujan adalah anugrah, pembawa keberkahan dan kelangsungan kehidupan alam semesta.
Selamat datang hujan, teriring doa:
“Allahumma shayyiban nafi’an."
Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat
Bondowoso, 27102021
Husnul Hafifah
#sisa hujan
Duplikat Kenangan
SIEKA
Telunjuk jari tinggal klik web Pusdiklat, nyaris bersamaan bunyi ringtone wa. Bu Betriza selaku koordinator kelas menuliskan pesan penundaan agenda. Paparan materi melalui video conferen yang sedianya dimulai tepat pukul 08.00 wib hingga pukul 11.00 ditunda dengan waktu tak ditentukan.
Kosongnya giat pagi ini menuai banyak komentar peserta. Sebagian besar senang karena bisa lanjut dengan rutinitas hariannya. Maklumlah diklat daring yang diikuti ini tidaklah murni diklat sebagaimana umumnya. Peserta diklat pada jam kosong tetap menjalankan tugas kantor. Bahkan jika ada tugas kantor yang sangat urgen, peserta bisa meninggalkan meeting room, setelah mendapatkan ijin narasumber.
Saya termasuk bagian peserta yang senang. Mengingat ada target pekerjaan yang harus dirampungkan. Laporan kinerja pada aplikasi SIEKA (Sistem informasi elektronik kinerja ASN Kemenag) sebulan terakhir ini terbengkalai. Faktor utama adalah kendala pada signal. Baik itu signal android ataupun wifi yang sering eror atau tak ada jaringan.
Menginput "rapelan" kinerja harian tidaklah sulit jika signal lancar dan ada catatan secara lengkap. Tidak sampai 1 jam, alhamdulillah dengan dukungan signal yang kuat pagi ini, data kinerja bulan lalu sudah terinput dengan capaian SKP 100 persen.
Pelaporan kinerja harian bagi setiap ASN adalah syarat mutlak selain data presensi elektronik. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pemberian Tunjangan Kinerja Pegawai pada Kementerian Agama.
Semoga membawa keberkahan. Aamiin.
Bondowoso, 7-09-21
Husnul Hafifah
#catatan daring hari ke-2