Ujung Pertengakarn


Ujung Pertngkaran

Hujan deras sore itu mulai mereda. Sayup-sayup suara keributan yang singgah ditelingaku, memancing rasa penasaran. Kumatikan kompor  menghentikan proses mengoreng pisang yang tinggal sekali lagi.Aku memburu penasaran, meningkatkan fokus mencari sumber suara keributan.

Rasanya tak percaya, begitu aku mengenali suara itu. Bagaimana mungkin dua sahabat itu beradu mulut dan nyaris baku hantam. Engkus dan Emon  saling curiga , saling tuduh atas kehamilan Beti. "Kau penghianat Ngkus!"Pasti Kau yang telah menghamilinya!" Engkus tak terima atas tuduhan Emon atas dirinya yang masih perjaka 100 persen. Engkus menyergah tudingan Emon dengan tak kalah sengitnya. " Stop!" Lengkingan suara Beti menghentikan adu mulut mereka berdua.

Engkus dan Emon terdiam mematung melihat apa yang terjadi pada Beti. Dalam rintih kesakitan Beti minta agar segera dipanggilkan tuannya. "Alhamdulillah bayi Beti laki laki, gagah ganteng 99% genetik indukannya ", jelas pak Mantri hewan usai memeriksanya. Engkus dan Emon saling pandang. Sadar pertengkarannya percuma. Mereka memang  pejantan, namun tak bisa membuktikan tuannya lebih memilih generasi dari inseminasi buatan.

Bondowoso, 8-11-2021
Husnul Hafifah
#Tantangan Menulis
# Hari 1

  


Mbok Ti


Mbok Ti Kecele


Perempuan tengah baya itu baru semalam datang. Mbok Ti, begitu kesehor nama panggilannya. Ia berniat lepas kangen  dengan rumah tinggal, keluarga dan kerabatnya. Maklum saja   dua tahun tak bisa mudik tersebab pandemi. Sejak pemberlakuan lockdown, pembatasan sosial berskala besar( PSBB), Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) yang terus mengalamai perpanjangan hingga berlevel. Tak ayal ijin cuti yang diberikan juragannya tuk pulang kampung selama seminggu dimaanfaatkannya semaksimal mungkin.

Usai menikmati sarapan pagi bersama anak dan cucu yang menempati rumahnya, Mbok Ti pamit hendak menggilir mengunjungi para tetangga sekitar rumah,tak ketinggalan juga menjenguk sahabat karibnya Mak Yas _saat keduanya  berjualan sayur di pasar. Rumahnya di pojokan paling ujung masuk gang samping rumahnya. Mbok Ti sempat terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Betapa waktu 2 tahun begitu banyak memberi perubahan di kampung sekitarnya. Sepanjang jalan kampung terlihat bersih dan asri. Teras rumah tetangga sekitar penuh bunga aneka warna. Mbok Ti sempat ragu saat melangkah menuju teras tetangganya. Keraguan pupus begitu sambutan hangat dari balik pintu rumah riuh menyapa. Mbok Ti tak bosan, meladeni dengan riang pertanyaan yang intinya sama _bak foto kopi dari tetangga yang dikunjungi. Suasana akrab masih sama kendati 2 tahun mereka tak bersua.

Hari semakin siang, sinar matahari mulai menyengat, namun target Mbok Ti untuk menuntaskan kunjungan pada tetangga hari itu juga, tak menyurutkan langkahnya. Ia pun lanjut bertualang. Di depan gang menuju rumah Mak Yas, Mbok Ti melihat teman SDnya_Kang Narto hansip desa, yang tengah asyik ngobrol dengan seorang Polisi. Di balik kaca mata plus minus yang tebal, Kang Narto dengan baju hansipnya masih terlihat gagah. Dalam girang suara Mbok Ti pun  kalah lebih cepat dibanding langkahnya. Dengan lantang menyapa Kang Narto, mengajak ngobrol walau jarak masih berapa langkah. Merasa yang di ajak bicara hanya melongo di balik kaca mata hitamnya. Mbok Ti mengeraskan volume suaranya, dalam hatinya menduga mungkin pendengaran sang mantan rusaknya kian  parah. " To iki aku Suryati kon wes lali tah? Laopo caring, masio jaga keamanan warga iku ngiup oja panas panasan!" Mbok Ti nyerocos sambil menyalami Kang Narto. Ooalah bibir Mbok Ti mengatup seketika saat wadak berbaju hansip yang disalami hanyalah gombalan dan kain perca. Di kejauhan Mak Yas terkekeh melihat tingkah sahabatnya.

Bondowoso, 20.10.2021
Husnul Hafifah
#pentigraf

Usai Hujan



Usai Hujan

Tempias air hujan dari reranting pepohon sepanjang jalan, siang itu temani perjalanan pulangku. Ini kali kedua, jelang sebulan giat PKKM. Begitu akan usai agenda hari ini  tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Alhamdulillah walau hujan lebat namun tak lebih dari 1 jam lamanya.

Ada yang berbeda dari perjalanan pulang hujan pertama dan hujan kali ini. Hujan pertama masih kentara dengan khas hujan di musim kemarau. Hujan hanya mengguyur di daerah tertentu saja. Usai hujan langit kembali cerah, bahkan di daerah yang tidak hujan, sinar matahari terasa sangat menyengat di kulit wajah.

Hujan kedua lebih merata, walau sudah reda, mendung pekat masih melingkupi langit. Genangan air hujan  pada daerah tertentu menutup ruas jalan. Membasahi sepatu dan rok yang kukenakan. Tak hanya itu, sampah- sampah yang menimbun di selokan, menyumbat saluran. Debit air yang meluber ke jalan raya, sisakan serakan sampah  merusak pemandangan.

Hujan sangat dirindukan saat daerah mulai kekeringan, tetumbuhan dan remputan kerontang  kehausan. Kedatangan hujan adalah anugrah, pembawa keberkahan dan kelangsungan kehidupan alam semesta.

Selamat datang hujan, teriring doa:
“Allahumma shayyiban nafi’an."
Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat

Bondowoso, 27102021
Husnul Hafifah
#sisa hujan


Duplikat Kenangan


Duplikat Kenangan

Rasa penasaran  pada Syzyngium (nama latin dari Jambu air) yang kutanam di samping rumah  sudah berlangsung 5 tahun. Aku sendiri yang membeli bibit dan menanamnya. Pada batang pohon jambu air yang masih sebesar kelingking ibu jariku tercantum ID card. Memang ID card itu sekarang sudah tidak ada, lapuk tergerus hujan. Namun tulisannya terekam dalam ingatan. Penampakan buahnya yang merah menyala, walau hanya sebuah bukan hanya menunaikan rasa penasaranku. Tetapi sekaligus membawaku pada kenangan masa kanak kanak berpuluh tahun lalu.

Aku kelas 3 SD, dan adikku baru kelas 1. Suatu ketika, kala pulang sekolah kami berdua bermain di pekarang rumah. Pekarangan itu luas dipenuhi aneka tanaman dan pepohonan. Di tengah asyik bermain mata kami tertuju pada rimbun buah jambu air merah menyala. Entah bagaimana ceritanya adikku tiba -tiba sudah nangkring di atas pohon, seraya memberi aba-aba agar aku menangkap jambu yang dilemparkan kannya.

Baru beberapa tangkapan, kami dikejutkan suara tak asing yang begitu dekatnya. "Kakek!", kataku, gugup sambil menoleh ke sumber suara.  Kakek sudah berdiri tak jauh dariku sambil mengacungkan rotan pada adikku. Menyuruh agar segera turun. Gugup dengan kedatang kakek, adikku bukannya turun, malah menangis terisak sambil mengulang kalimat yang sama, memberi tahu jika tak bisa turun. Lalu kakek mengambil tangga memberi pertolongan. Degup jantung kami tak karuan dan gemetaran. Terbayang cabukan rotan akan bersarang pada betis kami. Ternyata kami salah duga. Kami berdua tak jadi dirotan malah kakek yang akhirnya memetikan jambu air. Tergiang kata kakek saat kami menikmati jambu.
" Sekali lagi ketahuan anak perempuan manjat pohon, akan kakek rotan" Syzygium di samping rumah pagi ini tak seperti ID cardnya, ia hanyalah duplikat kenangan.

Bond, 3.11.2021
Husnul Hafifah

SIEKA

Telunjuk jari tinggal klik web Pusdiklat, nyaris bersamaan bunyi ringtone wa. Bu Betriza selaku koordinator kelas menuliskan pesan penundaan agenda. Paparan materi melalui video conferen yang sedianya dimulai tepat pukul 08.00 wib hingga pukul 11.00 ditunda dengan waktu tak ditentukan.

Kosongnya giat pagi ini menuai banyak komentar peserta. Sebagian besar senang karena bisa lanjut dengan rutinitas  hariannya. Maklumlah diklat daring yang diikuti ini tidaklah murni diklat sebagaimana umumnya. Peserta diklat  pada jam kosong tetap menjalankan tugas kantor. Bahkan jika ada tugas kantor yang sangat urgen, peserta bisa meninggalkan meeting room, setelah mendapatkan ijin narasumber.

Saya termasuk bagian peserta yang senang. Mengingat ada target pekerjaan yang harus dirampungkan. Laporan kinerja pada aplikasi SIEKA (Sistem informasi elektronik kinerja ASN Kemenag) sebulan terakhir ini terbengkalai. Faktor utama adalah kendala pada signal. Baik itu signal android ataupun wifi  yang sering eror atau tak ada jaringan.

Menginput "rapelan" kinerja harian tidaklah sulit jika signal lancar dan ada catatan secara lengkap. Tidak sampai 1 jam, alhamdulillah dengan dukungan signal yang kuat pagi ini, data kinerja bulan lalu sudah terinput dengan capaian SKP 100 persen.

Pelaporan kinerja harian bagi setiap ASN adalah syarat mutlak selain data presensi elektronik. Sebagaimana  diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pemberian Tunjangan Kinerja Pegawai pada Kementerian Agama.

Semoga membawa keberkahan. Aamiin.

Bondowoso, 7-09-21
Husnul Hafifah
#catatan daring hari ke-2

Umpatan Nyasar



Kulangitkan doa terbaik mengawali hari ini. Semoga Allah memberikan kelancaran untuk giat diklat daring 100 jam ke depan. Bagiku signal itu mendebarkan, penuh perjuangan.

Sudah ada ratusan peserta diklat dari 6 angkatan_utusan berbagai provinsi hadir di meeting room. Sambil menunggu kedatangan pejabat yang akan membuka acara, moderator menyampaikan tata tertip peserta demi kelancaran dan kenyamanan bersama.

Tetiba teriakan lantang dan umpatan liar warnai suasana. Makjleb!  Sepagi itu darah tingginya kumat. Dia lupa mengunmute mikronfonnya.


#Catatan Diklat Daring 1
6 september 2021
Husnul Hafifah

Perjalanan






Sebelum tidur semalam, sudah kurancang dengan matang tentang giatku hari ini. Agenda utama mengunjungi 2 sekolah_monitoring pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Sekolah berlokasi di Dusun Karang Paras  jadi sasaran pertama lanjut sekolah berlokasi di Dusun Tegal Pasir sasaran berikutnya.

 Bukan tanpa sebab kupilih alur begitu. Pengalaman 4 bulan lalu saat uji coba  PTM terbatas khusus jenjang kelas akhir. Berkat panduan salah seorang guru _untuk pertama kalinya setelah 3 tahun membina madrasah itu, aku baru tahu yang  sebenarnya. Jarak sekolah pertama menuju sekolah kedua  dimaksud sangatlah dekat bila ditempuh melewati jalan pintas (masuk gang perkampungan). Hanya tak lebih dari 3 km Lebih hemat waktu dan tenaga  dibandingkan melewati rute  biasanya.

Dengan perasaan bahagia dan berbunga -bunga pagi ini aku berangkat. Tentu saja bersama scoopy putih jadul yang setia menemani, menyusuri  aneka medan musim kemarau. Dari medan mulus, bergelombang, berlubang , berbebatuan, berkerikil sampai berdebu. Kompleksitas jalanan  mewarnai  perjalanan pagiku. 

Kira-kira 15 menit sudah berlalu, 2 km lagi akan sampai. Seperti tabir tersingkap di alam pikiranku. "Ya Allah begitu mudahnya aku lupa". Tanpa sadar aku keluar dari planing. Mengalir begitu saja. Sekolah di dusun Karang Paras tujuan  pertamaku,  realitanya di Dusun Tegal Pasir diri ini kubawa.
 
Alhamdulillah, walau  tak ada chemistry antara hati dan perbuatanku  Allah melindungi perjalananku, hingga aku sampai di sekolah itu dengan selamat. 

Kuparkirkan sepada persis di depan ruang guru. Suasana pelataran sepi. Sejurus mataku tertumpu pada onggokan sampah di depan pojok kelas. Kulihat pula ruang guru yang kosong, hanya ada sebuah tas dan buku di atas meja itu. Ada 3 ruang  kelas sederet dengan ruang guru.  Semuanya dalam kondisi tertutup. 

Kutuju ruang kelas di sebalah ruang guru. Samar-samar kudengar suara anak-anak. Kuketuk pintunya. Pada lubang  gagang pintu yang rusak aku melihat dengan jelas seorang guru perempuan sedang "nglesot" bersama murid-muridnya di atas karpet lusuh. Tak kurang dari sepuluh siswa saat kuhitung cepat_di ruangan itu.

Pandangan sekilasku juga  menangkap salah satu siswa memberi tahu sang guru yang tak menyadari akan kehadiranku_ sambil menunjuk ke arahku. Spontan siswa lain  berteriak girang sambil menayakan "Bu vaksinan?" Sang guru memberi isyarat agar siswa diam dan melanjutkan belajar. 

Guru itu menghampiri dan membawaku pada kepala sekolah yang saat itu juga masih mengajar di ruang sebelahnya. Aku mengekor saja saat kepala sekolah mengajakku.Usai melihat- lihat pelaksanaan KBM lalu aku disilakan ke ruang guru. Di situ, kepala sekolah dengan ditemani seorang guru_kami bertiga serius dalam perbincangan.

Aku sengaja lebih banyak mendengar apa yang  dicurhatkan mereka. Terutama dari sang kepala sekolah. Sebagai kepala baru kubiarkan dia mengungkap banyak hal terkait  dengan tugas yang baru diembannya. 
Tak terasa waktu 1,5 jam sudah berlalu. 

Waktu segitu memang sangat kurang untuk membahas segala persoalan yang dihadapi sekolah. Mengingat masih suasana perpanjangan "PPKM", sementara  kubatasi dulu perbincanganku di sekolah itu. 

Aku pun  melanjutkan perjalanan sesuai agenda, dengan perubahan skenario-Nya.
Rasa percaya diri yang tinggi, dan dengan alur terbalik kubawa ingatanku melacak jalan yang penah dilewati 4 bulan lalu. 

"Bu mohon bimbingannya "saya berangkat dari nol". 
Kalimat itu mengiang di sepanjang perjalanku. Masalah klasik di sekolah swasta_ pergantian kepala sekolah semaunya yayasan, regulasi yang ada kerap diabaikan. Penjabat kepala sekolah swasta syarat utamanya "tawaddu dan sendiko dawuh" pada yayasan. 

Kompetensi dan kabilitas seorang kepala tak jadi perhitungan. Adalah sebuah kelaziman jika setiap pergantian  kepala akan menyisakan "dosa warisan' kepada penerusnya.

Seperti tape recorder, entah sudah kali keberapa setiap pembinaan dan memotivasi kepala sekolah aku selalu  menggunakan kalimat" tugas dan pekerjaan kepala yang banyak ini jangan dipikirkan ! Anda akan pusing sendiri nantinya. Yang bisa dikerjakan ayo kerjakan. Kerjakan sesuai kemampuan dan kondisi sekolah. Jangan kerjakan sendiri. Kepala sekolah harus membangun kemitraan dengan para guru dan tenaga kependidikan. Bagi habis itu pekerjaan. Jangan gunakan menejemen tukang bakso!" 

Sang kepala sekolah itu tersenyum dan manggut -manggut. Sementara aku terpana, saat keluar dari mulut gang pada  pertigaan itu. Mataku nanar menangkap sebuah gedung di ujung kanan jalan  bertuliskan  "Puskesmas Jambesari Darus Sholah" 

Astaghfirullah. Lagi-lagi aku salah jalan. Maksud hati menembus jalan pintas yang hanya bisa ditempuh sekitaran 5 menit sampai. Siapa sangka hari ini aku dapat bonus waktu, bonus keringat gegara aku salah memilih gang. Endingnya aku semakin menjauh dari tujuan. Inikah teguran? Aku hanya berencana, tapi keputusan di tangan-Nya. 

Ya Allah ya Rabb ...ampuni dosaku, hamba sadar aku hanyalah hamba, bodoh, lalai, tak berdaya tanpa pertolongan-Mu, sungguh tak pantas kesombongan bersemayam di dada.


Bondowoso, 1 Sep 2021
Husnul Hafifah