Diajak Kelon


Bu Kinan adalah sosok istri yang lugu,  setia, patuh dan taat pada suami.  Sore ini Bu Kinan hanya berdua dengan suami. Ketiga putranya sudah kembali ke pemondokan. Pak Aris _sang suami sedang mandi. Melihat android suami tergeletak di kasur Bu Kinan iseng membuka wa. Seketika wajahnya cembetut, napasnya tersengal sengal lalu menangis sejadi-jadinya.

Mendengar tangis histeris sang istri, dengan tergesa Pak Aris menghampiri. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur untuk sang istri. Sayang  Bu Kinan tak bisa berkata- kata , pertanyaan Pak Aris  justru kian membuat tangisannya menjadi. Bu Kinan merasa terhianati. Sandiwara suami terasa menyakitkan sekali. Selama ini Ia begitu percaya dan setia pada suami. Sebagai balasan suami telah menduakannya. Bu Kinan merasa menjadi wanita paling bodoh, terlalu naif sampai tidak tahu ada wanita lain di dalam kehidupan rumah tangganya. Bu Kinan terus berurai air mata, sesunggukan, menumpahkan kemarahan serta berusaha mengintrogasi suami.

Dalam terisak ," Mas siapa Lidia?" Dia istrimukan?" Pak Aris kebingungan dicecar pertanyaan yang sedikit pun tak terkoneksi di alam pikirannya. Pak Aris meminta sang istri untuk tarik napas dalam -dalam. Memintanya  menjelaskan dengan pelan apa maksudnya. Bu Kinan lalu menyodorkan android dan menunjukkan wa bernama Lidia. Membaca wa itu Pak Aris terbahak bahak. Diambilnya laptop, dinyalakannya lalu dibukanya aplikasi zoom. Didudukannya sang istri di depan laptop. Direngkuhnya dan  dijelaskan jika Lidia adalah murid sekaligus ketua kelas. Dalam pelaksanaan PTM terbatas , sekolahnya masih menerapkan 50% tatap muka dan 50% "kelon"_kelas online. Penerapan ini tergantung level daerah masing-masing. Bu Kinan cepat-cepat mengakhiri tangisannya beringsut pergi sambil berbisik " mas usai kelon zoom, nanti kelon di kamar kita.

Bond. 5 01.2022
Husnul Hafifah
# Pentigraf

Ratu Dapur


 Dingin masih erat memelukku. Sadar jika hari ini, jadwalku jadi ratu di dapur. Kubuka mukenah batik biru toska yang masih membungkus tubuh. Lalu kusingkap semua korden, serta kubuka  jendela rumah. Sejauh mata memandang terhampar langit tertutup awan tipis putih abu-abu.

Aku segera ke dapur. Pikiranku  berjalan penuh dengan planing sehari  menjadi ratu. Diawali dengan menyusun menu sarapan. Masak apa hari ini ya? Kubuka kulkas. Wow ...nyaris mlompong. Di antara  beberapa boks yang berisi, kutemukan 5 potong tahu putih, 1 bongkol paksay, kecambah, cabe rawit dan tomat_kukeluarkan.

Ide spontan, untuk sarapanku yang hanya  berdua saja dengan mantan, bahan-bahan yang ada akan kubuat perkedel tahu, cah paksay, kecambah telur puyuh. Menu tambahan menyusul menunggu tukang sayur lewat.

Pertama kucuci bahan-bahan yang akan kumasak. Untuk perkedel tahu cincang  halus 2 siung bawang putih, 3 siung bawang merah, cabe rawit sesuai selera. Masukkan semua pada tahu yang sudah dihaluskan, Tambahkan 1/2 sendok teh garam, 1/2 teh lada, 1 butir telur dan 2 sendok makan tepung bumbu. Aduh rata lalu goreng sesendok -sesendok. Jangan lupa tes rasa.

Sambil menggoreng aku menyiapkan bahan-bahan untuk cah. Paksay dipotong-potong, bawang putih, bawang merah, cabe rawit, tomat juga diiris-iris. Semua bahan sudah fiks tinggal cempang cemplung. Tentu menunggu setelah menggoreng perkedel tahu. Acara goreng mengoreng selesai kulanjut membuat cah.

Maksud hati memeluk gunung apa daya semeru erupsi, saat prosesi cemplung mencemplung terakhir kali, box kecambah tak teraih sempurna. Alamak kecambah pun tumpah, semburat kemana-mana memenuhi area dapurku yang luasnya memang tak seberapa.

Insiden kecambah tumpah rupanya sebagai isyarat belaka, saat kujongkok   memunguti kecambah di lantai, pada kolong tempat cuci piring aku menemukan mangkuk rice cooker yang belum dicuci. Artinya?

Bondowoso,5.12.2021
Husnul Hafifah
#Tantangan menulis
#Day28

Wajah di Balik Masker

Tampang mas Joko. Si mantan cover boy era 80 an itu berseliweran di pelupuk mataku. Aku dan mas Joko sahabatan sejak kuliyah. Semenjak lulus kuliah, kami  tak pernah jumpa. Berkat kecanggihan teknologi, akhirnya kami dipersatukan kembali dalam wag alumni teman kuliah. Di grup itu Mas Jokolah yang paling getol menyemangati teman -teman untuk menjaga silaturahmi, berbagi tulisan pencerahan, di samping juga banyolan-banyolan positif tanpa provokatif serta antipornografi.

Seperti hari ini, lewat tulisan yang kubintangi aku membacanya lagi. Mbak Ana _istrinya saat lebaran kurang 3 hari merajuk mengajak ke mall minta dibelikan piranti lebaran. Tak ingin ada pertengkaran, walau setengah hati Mas Joko menuruti kemauan istri. Usai berbuka bukannya persiapan taraweh tapi langsung meluncur ke mall. Sampai di pintu masuk, satpam melarang Mas Joko masuk karena ia pakai masker scuba, katanya tak layak. Mas Joko balik arah mengambil masker standar di mobilnya, berpesan pada mbak Ana untuk menunggu di dekat pintu masuk.

Setelah ganti masker Mas Joko diizinkan masuk. Sampai di pintu masuk Ia kaget luar biasa. Pengunjung mall yang dilihatnya sangat banyak_membludag. Khawatir akan terjadi gelombang Covid ke-2 Mas Joko spontan menarik lengan sang Istri, mengajaknya keluar, mambatalkan niat shopingnya. Mbak Ana meronta, hendak melepaskan tangan Mas Joko. Rupanya cengkaraman tangan Mas Joko Lebih kuat. Mas Joko tak mempedulikan omelan, dan rontaan mbak Ana.Bahkan omelan Mas Joko bersaing. Sampai di parkiran Mas Joko membukakan pintu dan mendorong mbak Ana hingga terduduk. Mbak Ana kian marah dan kesal, saat itu ia ada kesempatan membuka maskernya sambil teriak" Hei bung lihat- lihat dong jangan main kasar ", bentaknya. Seketika wajah Mas Joko merah padam. Ia baru sadar yang ditariknya ternyata  bukan mbak Ana _istrinya.

Bumi Megalitikum, 1 Desember 2021
Husnul Hafifah
#Tantangan Menulis 30 hari tanpa
 jeda
 #day 24

Asmara Terlarang

Mendung pekat, diiringi reriintik hujan. Di ruang tengah perempuan paruh baya itu meradang. Bagaimana tidak. Anak perempuan yang begitu dimanjanya. Masih ingusan  dalam pandangannya- dalam sepekan berulah. Didikan dan nasihatnya seperti angin lalu saja. Masuk telinga kanan keluar dari telinga kirinya.

Puncaknya hari ini. Canira  anak perempuannya yang sedang dihukum di kamarnya, tidak ada. Ia memang kesal menemukan mereka bercumbu mesra. Ia tidak merestui hubungan asmara mereka. Di samping masih terlalu belia, Grey  bukanlah lelaki levelnya.  

Dalam amarah  dicarinya anak gadis itu kemana-mana. Seorang tetangga yang melihat memberitahunya. Yang dicarinya pergi bersama lelaki. Seperti ciri yang disampaikannya. Perempuan itu yakin anaknya dibawa lari oleh Grey. Laki-laki yang pernah diusirnya.
Perempuan itu pun berurai air mata, hatinya kesal " sia-sia aku menjaganya, akhirnya dia kawin lari dengan Grey si kucing kampung itu".

Bondowoso, 29.11.2021
Husnul Hafifah
#Tantangan menulis
#day 22

Pagi Berkabut

Ahad ba'da subuh. Kabut pekat merenjiskan butiran air,meresap gigil ke seluruh tubuh. Kutarik  selimutku rebahan lagi di kasur. "Tak apalah sesekali. Lagian ini hari libu," pikirku. Memanjakan, memberikan hak tubuh. Rehat sejenak bebaskan diri dari urusan kantor dan urusan rumah. Nanti bangun bila perut keruyukan, beli  pecel pincuk sudah beres.

Entah kapan datangnya tau -tau suara Pak Su mengiang di telinga. "Belanja apa? ada orang kerja". Ambyar, cita-citaku tak sampai. Dengan kecut hati kujawab list belanjaan sekenanya. Menyingkirkan selimut, kutinggalkan kasur beranjak menuju dapur. 

Kududuk sebentar di kursi meja makan. Sesruput kopi arabika seduhan Pak Su, cukup caspleng  lenyapkan hati kusut dan wajah cemberut. Dengan bismillah semoga dalam ridho Allah kumulai aktivitas pagiku di dapur. Kukeluarkan isi kresek hitam belanjaan Pak Su. Ada tauge, kubis, tempe, cakalan, telur. dan jagung manis. Kuesksekusi bahan bahan itu menjadi beberapa menu masakan.

Tak kurang dari satu jam semua menu masakan sudah beres dan siap disajikan. Menu masakan  hari ini ada nasi putih pulen lumer over pengairan. Sayur bumbu kuning paduan tempe, kubis dan tauge anti gabut. Cakalan goreng lagi galau. Dadar jangung kalut dan sambal hijau cabe rawet morat marit.

Sampai sini saja  sepenggal kisah Ahad pagiku yang berkabut dan sedikit kalang kabut.

Bondowoso, 28.11.2021
Husnul Hafifah
#tantangan menulis
Day21

Recehan

Hari masih sepenggalah,masker yang kukenakan menemani perjalananku, tak mampu menghalau sengat  mentari. Peluhku menyembul di sela sela- jilbab pink yang kukenakan.

Bermula dari bekas palang pintu perlintasan sepur itu, jalanan tak besahabat. Jalan bergerojal, penuh lubang, belum lagi luap air selokan sisa hujan semalam menutup separuh ruas jalan. Sulit bedakan jalan datar dan kubangan. Sedetik waspadaku menghilang celaka 12 pengintainya.

Kuhela napas panjang saat keluar dari jalan nan penuh jebakan. Ingin kutancap gas, agar segera sampai pada madrasah binaan. Beruntung awasku tertuju jarum pengukur bensin tunggangan. Jarum hitamnya jauh lampaui garis merah. Nyaris! Sedikit lagi bisa mogok tengah jalan. Kutebar pandangan pada sekitar mencari minuman, buat motorku yang kehausan. Persis di pertigaan ke arah kanan _tanjakan, dahaga motorku terpuaskan. Tak terkira tak ternyana, persoalan baru datang. Aku kelimpungan saat dompet kesayangan tak kutemukan di dalam tas. Kurogoh semua kantung saku yang nempel di badan. Tak sepeser pun kutemukan. Kugeledah kantung kantung tas punggungku, Panikku melandai saat receh demi receh terhimpun, lalu dihitung. Alhasil hari ini rasa maluku terselamatkan.

Pejagan, 25.11.22
Husnul Hafifah
#tantangan menulis 30 hari tanpa jeda
#day 18

Janji


Sudah jadi tradisi, salah satu eforia ungkapan syukur atas terpilihnya Kades kami, disembelihlah seekor sapi. Sapi yang disembelih kadang sudah disiapkan cakades tapi bisa dari sponsor, murni sumbangan atau kalkulasi belakangan setelah pelantikan. Pokoknya bergantung pada perundingan.

Baik pendukung ataupun bukan  "mereka yang sadar" akan merapat dan  berbondong -bondong mendatangi rumah Kades baru. Datang memberi ucapan selamat, serta doa kebaikan.  "ingatkan saya, ingatkan saya", begitu kata kata Pak Kades setiap menyalami tamunya.
Persis di hari ke-7, Sinti siJanda beranak 1, mantan kembang desa yang tetap aduhai itu, baru bisa sowan.  Maklum saja, sebagai perempuan tetap pakewuh jika datang tak membawa buah tangan. Tiga kg gula yang dijinjingnya menunggu upah mingguan dari sang majikan tempat ia bekerja.

Seperti tamu lainya Sinti datang untuk mengucapkan selamat. Hampir satu jam  Sinti ngobrol dan sudah mendapat suguhan makan, tapi tak juga pulang. Ia berusaha mencari celah mengingatkan pak Kades. Bu Kades yang sedari tadi menemani merasa gerah. Ia  membiarkan Sinti ngobrol dengan pak Kades. Bu Kades mencari cara agar tamunya segera pulang. Bu Kades berdehem 3x. Mendengar isyarat itu pak Kades menoleh pada sang istri. Betapa terkejutnya  melihat istrinya mengacungkan ulekan batu dengan ekspresi mata membelalak dan alis naik 5 centi. Pak Kades merasa ngeri membayangkan jika ulekan itu melayang dan  menimpuk kepalanya. Tak ingin itu terjadi. Pak Kades  berbisik pada Sinti. " Maaf dik, janji saya akan menjadi jodoh Dik Sinti jika jadi Kades diralat. Saya akan mencarikan jodoh Dik Sinti" . Sinti pun Pamit pulang dengan menahan bulir air matanya agar tak jatuh.

Bumi Megalitikum, 21.11.2021
Husnul Hafifah
#Tantangan Menulis
#day 14