Lupa




Lupa merupakan hal biasa dan lumrah. bisa menghinggapi manusia  kapan saja. Baik  itu usianya masih anak-anak , remaja  dewasa ataupun orang tua. Siapa pun bisa lupa.

Anak - anak misalnya ketika ditanya oleh gurunya mengapa tidak mengerjakan  Pr alasan klasik biasanya menjawab lupa.  Atau anak kita sendiri ketika diminta ke warung disuruh membeli beberapa item belanjaan  tanpa daftar catatan . Hasilnya ? ada saja yang kelupaan, barang yang tidak terbeli atau membeli  tetapi kadang tak sesuai dengan harapan.

Sebaliknya ada kisah ibu /istri yang lupa  dan membuat geli penghuni rumah. Kisah lupanya pas hari Ahad. Pagi sekali niat masak untuk sarapan keluarga.  Berapa menu masakan sudah tersaji. Anak-anak dan suami sudah siap mengelilingi meja makan . Eh pas buka magig comnya, astaufirullah isinya tetap beras. Rupanya si Ibu lupa mencet tombol memasaknya. Gimana reaksinya jika terjadi di keluarga Anda?

Seorang suami pun punya kisah lupa yang tak kalah menariknya dari istri. Teman saya kepala sekolah pernah bercerita pada saya. Suatu ketika istrinya akan melahirkan anak yang ke-4. Persalinannya, karena tinggal di desa menggunakan jasa bidan desa langganannya . Pagi sekitar pukul 07.00 si Istri rupanya ada tanda -tanda akan melahirkan. Maka dijemputlah bidan desa itu dibawa  ke rumahnya. Setelah diperiksa perkiraan persalinan masih agak lama. Mendengar masih lama si suami pamit sama si Istri untuk masuk sekolah saja.

Singkat cerita saat suami kerja si Istri pun melahirkan dengan selamat seorang bayi laki -laki. Siang sekitar pukul 13.30 si Suami pulang. Sampai rumah lewat pintu depan melewati ruang tamu. Di ruang tamunya tergeletak koran yang masih rapi belum dibaca. Spontan ia pun duduk manis membaca koran. Berapa judul berita mulai head line dan berita lainnya sudah ia baca. Lumayan lama juga ,  baru penciumannya memberi signal dengan bau minyak telon menyengat khas aroma bayi.

Iapun terperanjat lari ke kamar tempat istri dan Bu Bidan tadi ditinggalkan.  Begitu sampai pintu kamar ia disambut tertawaan orang di dalamnya ( Bapak ibu mertu dan istrinya)-- sengaja membiarkan dirinya asyik dengan korannya . Ia mau menggendong putranya hendak mengenalkan kalimat toyyibah pada si buah hatinya tapi istrinya keburu memberitahukan sudah dikenalkan pertama kali oleh kakeknya pagi tadi.

Reaksi orang sekitar kita tentang lupa juga bermacam- macam. Ada yang bisa memaklumi dan menerima jika lupa itu manusiawi. Orang yang seperti ini bisanya mudah memaafkan jika seseorang melupakan sesuatu. Misalkan suami lupa tidak menjemput istri saat belaja di pasar. Suami lupa jemput anak di sekolah hingga di telpon pak satpam. Sebaliknya ada juga manusia yang menginginkan kesempurnaan. Selalu memastikan tak boleh sedikitpun ada alpa dan lupa pada dirinya.  Manusia yang seperti ini biasanya sulit memaafkan, tidak bisa menerima kesalahan orang lain karena lupa. Lupa yang ada  berakhir dengan pertengkaran dan percekcokan, kadang butuh berhari -hari untuk baikkan.

Berbicara masalah lupa , dua hari ini , saya mengalaminya. Lupa pertama saya saat masak hendak menyiapkan buka hari Arofah. Sambil menunggu satu masakan yang  dirasa kurang empuk saya raih hp. Maksunya untuk menunggu saja sambil membuka wa. padahal sudah hampir azan magrib. Keasyikan wa tak sadar ada bau menyengat, suami sigap mematikan kompor dengan senyum- senyum, Jadilah menu berbuka kelewat mateng dengan aroma terapi "khas gosong"

Lupa kedua saat hari Idul Qurban, seharian  bantu-bantu panitia qurban di keluarga besar. Kebagian memotong daging qurban, dari  usai shalat Id, hanya Ishoma duhur baru selesai jam 16.00. Malamnya usai sholat isya langsung KO, lupa pada janji menulis. Esok paginya  pukul 7.30  buka wa  grup belajar menulis , buka link tautan seorang peserta.  Terasa aneh pikir saya, "Kok isi resume pertemuan ke-26?" Masih juga tak percaya akhirnya saya manjat. Ya Allah , benar ternyata tadi malam, malam Sabtu. Ada jadwal kuliah online pertemuan ke- 26 bersama Pak Encom. 

Maafkanlah saya yang lupa. 

Menyadari betapa diri ini memang sudah tua, otak pun ikut  menua,ha ha. Memori otak tidak mampu menyimpan semua hal yang terjadi dalam hidup saya. Memori memiliki batasannya. Bagi saya lupa adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi sekaligus sebagai  signal jika usia tidak lagi terbilang muda. Sudah waktunya banyak muhasabah diri, lebih banyak meningkatkan amal kebajikan serta lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta. Bagaimana menurut Anda?

Salam literasi
Bondowoso, 1 Agustrus 2020
Penulis Husnul Hafifah

Berkorban di Idul Qurban



Sebentar lagi , 31 Juli 2020 bertepatan 10 dzulhijah 1441 H. Umat Islam akan melaksanakan Idul Adha atau hari Qurban. Prosesi didahului dengan menggelar sholat Id dan dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban , sebagai wujud ketaatan umat Islam dalam melaksanakan perintah Allah Swt. Sebagaimana keteladan yang dicontohkan Nabi Ibrahim As, ketika diminta mengorbankan putra kesayangannya Nabi Ismail As. Tanpa keraguan sedikitpun Nabi Ibrahim mengorbankan putranya  namun Allah menggantinya dengan seekor Domba.

Pelaksanaan Idul Adha dalam pandemi covid 19 tetap mengikuti protokol kesehatan. Seperti khotbah dipersingkat. Jamaah menggunakan masker, jaga jarak membawa sajadah sendiri, cuci tangan dan memakai saniteser.

Dalam pelaksanaan pemotongan hewan qurban pun juga harus sesuai protokol kesehatan, sebagaimana Fatwa yang dikeluarkan MUI Nomor 36 Tahun 2020 tentang penerapan protokol kesehatan saatmenyembelih hewan kurban, yang tertuang dalam 6 poin protokol. 

Berikut keenam poin dimaksud:
Pertama, orang-orang yang terlibat dalam proses penyembelihan harus saling jaga jarak (physical distancing) dan mencegah terjadinya kerumunan.

Kedua, selama kegiatan penyembelihan qurban berlangsung, panitia pelaksana harus menjaga jarak fisik, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun di area penyembelihan, setiap akan mengantarkan daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah.

Ketiga, penyembelihan qurban dapat dilaksanakan bekerja sama dengan rumah potong hewan dengan menjalankan ketentuan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal.

Keempat, apabila memang tidak memungkinkan untuk bekerja sama dengan rumah potong hewan maka penyembelihan qurban boleh dilakukan di area khusus dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan, dan sanitasi, serta kebersihan lingkungan

Kelima, pelaksanaan penyembelihan qurban bisa mengoptimalkan keleluasaan waktu selama empat hari, mulai setelah pelaksanaan salat Iduladha, 10 Zulhijjah hingga sebelum maghrib pada 13 Zulhijjah.

Keenam, pendistribusian daging qurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Ketika menulis poin keenam saya langsung terbayang pada kenangan  pelaksanaan qurban yang biasa dilakukan oleh salah satu yayasan suatu pesantren. Prosedurenya sudah tertata rapi dan bagus. Ratusan sapi dan ribuan kambing qurban yang ditangani, setiap tahunnya. Pendistribusiannya  menggunakan kupon dan mengantri sesuai jam yang telah dijadwalkan. Namun begitu namanya manusia walau sudah diatur sedemikian rupa kadang suka uyel uyelan dan dorong -dorongan. Memang sih tak sampai ada korban. 

Bagaimana dengan prosesi qurban di pandemi covid 19 ?  bisakah covid mengubah tradisi uyel - uyelan saat antre daging qurban? Semoga saja berjalan sesuai aturan.

Lamunan saya bubar dikejutkan gema takbir dari masjid dekat rumah. Ada rasa haru dan rasa tak menentu dalam pikiran, sulit rasa diungkapkan. Hanya selisih detik, tiba-tiba  dering gawai yang saya gunakan menulis berbunyi. Getaran hati rupanya tersambung dengan buah hati yang sulung. Ekspresi wajah yang tampak di layar gawai  tak seperti biasa.  Senyumnya tampak jika dipaksakan. Dengan kata tercekat, genang air mata yang ditahan si  Sulung membuka suara, dalam kalimat  permohonan yang sama, sekali lagi dia mengatakan " Mama  aku sungkem dulu ya , maaf Idul Adha ini juga belum bisa pulang". 

Aku pun tak banyak berkata -kata. Namun tak ingin mengungkapkan rasa yang terpendam di dada.  Menyadari  lebaran kedua ini rupanya harus tetap  bersabar  dan perlu banyak belajar dari keihlasan Nabi Ibrahim mengorbannkan putranya. Saya harus  belajar mengihlaskan , salaing memafkan, menerima keadaan, mengorbankan perasaan, memendam kerinduan yang  sudah tertahan 4 kali purnama . Semua untuk kesehatan dan keselamatan bersama. Entah sampai kapan!


Selamat Idul Adha 1441, semoga Allah memberkahi kita semua.
"Bukan darah dan daging yang sampai kepada-Nya, tapi ketaqwaan dan kesholehanlah yang akan menunju-Nya"

Bondowoso,30072020
Penulis : Husnul Hafifah
Blog: www.diarynulfah.blogspot.com

MERACAU


Dalam dingin desir angin tenggara

Bersama guguran ranting dedauan kering

Kau rangkaikan aksara pilu hatimu

Penantian panjang di 13 bulan

13 jam, 13 menit dan 13 detik

Menepi pada penghujung Juli

 

Rindu dan gundahmu kian meracau

Di atas catatan panjang piutang

Yang berbuku-buku

Dari  sembako, kontrakan, SPP, daftar ulang

Tunai dibayar walau sekolah dan kuliah dari rumah

 

Deret hutang kian memanjang

dicontreng pulsa dan paket data

Kepalamu tertuduk  bersama desah

Berselimutkan kesah dan resah

Diterpa  dingin  angin tenggara

 

Bondowoso, 280702020


Pena Digitalku





Awalnya aku cuek saja setiap kali ada undangan untuk bergabung ke grup WhatsAppnya. Cuwekku pertama. Waktu itu awal covid pikiran masih kacau, stres menghadapi cara hidup yang tidak biasa (WFH, TFH dan LFH ). Jujur sebagai ASN yang terbisa bekerja di lapangan,tiap hari keliling dari satu sekolah ke sekolah binaan  sesuai agenda kegiatan tiba-tiba saja harus bekerja dari rumah,ini tidak mudah butuh adaptasi, mengubah strategi ditambah lagi di rumah ada 2 anak yang harus didampingi dalam kegiatan LFHnya. Kedua aku  tidak percaya begitu saja atau meragukan tentang program yang ditarawarkannya. Masa sih  hari gini ada bimbingan belajar menulis gratis? Via wag lagi, apa iya   bisa efektif. Zuuzonku  juga bertambah ah paling -paling cuma asal -asalan. Begitu keraguanku setiap kali ada tawaran bergabung dalam wagnya. 

Sampai suatu  ketika , kekehku untuk mengabaikan undangan itu mulai memudar. Aku mulai melirik dan tertarik untuk bergabung .Namun begitu masih ada ragu dan malu untuk bergabung. Permasalahannya di undangan chat itu berbunyi bimbingan untuk para guru.  Sementara aku sejak 3 tahun lalu sudah tidak menjabat guru. Selain itu aku adalah ASN kemenag, apa mungkin bisa bergabung dalam wadah kegiatan di bawah PGRI . Itu diantara ganjalan yang membuat hatiku maju mundur untuk  klik bergabung.

Aneh,  risauku ternyata terus berglayut dalam pikiran. Akupun mencoba menghubungi Bu Mila teman wag RVL apa dia ikut kelas menulis. Ternyata dia pun punya pikiran yang sama ada minat bergabung. Dia janji akan memberitahukan info lanjutan jika positif bergabung. Singkat cerita bu Mila menepati janjinya, selang beberapa jam lewat wapri memberi info positif bergabung. Ia menyarankan agar aku japri langsung pada  Om Jay. 

Dengan perasaan sedikit malu akhirnya aku memberanikan diri japri  Om Jay. Dengan kaliamat japrian singkat isinya begini: "assalamualaikum Om Jay, maaf tanya saya bisa tidak ikut bergabung di kelas belajar menulis? Saya ini bukan guru". Tanpa memberi jawaban Om Jay selaku pengelola kegiatan  langsung menggabungkanku dengan grupnya. Alhamduliilah aku  bisa masuk anggota di grub belajar gelombang 12. Ketika itu pertemuan sudah belangsung 1 kali tatap muka. 

Pertama kali masuk grup rupanya sudah banyak postingan resume pertemuan ke-1. Diam- diam aku memperhatikan. Kemudian admin (ibu siti fatimah) meminta pada anggota baru untuk memperkenalkan diri. Selain itu juga mengingatkan bahwa tiap peserta  wajib memiliki alat tulis digital. Alat tulis itu adalah blog.  Aku sendiri belum kepikiran untuk membuat blog. Sehari bergabung di grup itu masih fokus menyimak saja. Baru esoknya saat bu Fatimah mengingatkan kembali agar semua peserta sudah siap dengan alat tulis digitalnya.  Mengingat malamnya ada pertemuan ke- 2. Aku pun jujur mengatakan jika belum punya blog karena belum bisa.#

Dari tutorial pembuatan blog yang dishare Pak Brian, aku mencoba membuat blog. Namun ketika masuk pada penyetingan aku mulai bingung tidak bisa meneruskan langkah lanjutannya. Kendalanya beda tampilan di laptopku, minimnya penguasaan IT, penguasaan bahasa Inggris yang juga minimalis ditambah usia sudah tidak muda lagi sempat membuat kegalauan tersendiri. Beruntung di rumah ada anak jejaka no.2 covid membuatnya kuliah dari rumah. Hikmahnya bisa memandu mamanya ketika kesulitan dalam ber IT. Dengan perjuangan berdarah- darah akhirya aku punya blog. Senang rasanya hati memiliki blog pribadi walau saat itu perlu belajar berkali kali untuk bisa posting dan edit. Tidak cukup sekali dua kali salah  atau lupa. Sebagai mama tentu dimaafkan walau sering lupa dan berkali kali meminta penjelasan yang sama, anak jejakku memaklumi.

Blog pribadiku kuberi nama diarynulfah.blogspot. com. Sesuai namanya  blog ini kujadikan sebagai tempat menampung segala curahan perasaanku dalam berbagai genre tulisan yang aku bisa-tentu harus selalu belajar- seperti puisi, pentigraf, artikel populer,atau kisah harian, yang bisa dipublikasikan . Siapa tahu saja tulisan sampahku bisa bermanfaat bagi pembaca. 

Di blog pribadiku ini, hoby baruku bisa tersalurkan. Aku lebih bebas dalam mengeskpresikan diri dalam tulisan, memotivasiku untuk selalu belajar. Sebagaimana motivasi yang selalu om Jay kibarkan " Menulislah setiap hari, dan buktikan keajiban apa yang terjadi"
 
Satu harapan terbesarku, pada saatnya nanti mudah-mudahan  tulisan yang berserak di blog ini bisa kuhimpun untuk kujadikan buku,sebagai jejak legasy bagi ahli warisku. Semoga!



 
Bondowoso, 27072020
          Penulis Husnul Hafifah
          diaraynulfah.blogspot.com 

Menulis Selancar Berbicara


 

Kebanyakan orang  tidak akan percaya  jika menulis itu dikatakan selancar berbicara. Bagaimana  dikatakan selancar berbicara  kenyataannya ketika seseorang berbicara deras seperti aliran air, saat diminta untuk menulis, mereka  rata mengatakan  tidak bisa, tidak tahu akan menuliskan apa. Ada juga yang mengatakan tidak menemukan ide. Terkadang juga tengah menulis tiba - tiba berhenti, macet tidak bisa menyelesaikan tulisannya. Akhirnya berjam-jam pun tidak menghasilkan apa-apa . Menulis satu paragraf pun katanya sulitnya luar biasa.

 Sebagian lagi ada orang langsung memvonis dirinya dengan ucapan "saya tidak bisa menulis , saya tidak berbakat" Apa iya tidak bisa menulis ? Anda Lulusan S1 ? Ketika kuliah tentunya tiap matkul ada tugas  berkaitan dengan tulis menulis. Seperti makalah, proposal, resume  dsb. Coba kalkulasi jika 1 matkul ada tugas makalah 1 semester 3 saja,  tiap makalah 10 lembar misalnya berapa lembar jumlah tulisan yang sudah diihasilkan? Jika Anda mengatakan tidak bisa inilah yang semestinya dipertanyakan. Apa peran Anda sebagai mahasiswa kala itu? Spesialis copaskah , penyedia kertas ataukah penanggung jawab foto copy? Terus bagaimana juga dengan skripsinya? Ha ha tak perlu dijawab ya itu privacy Anda.

Menurut pakar neurolinguistic bahwa setiap manusia itu di batang otaknya sudah dibekali dengan saraf linguistik atau saraf kebahasaan . Saraf kebahasaan ini untuk  berbicara dan juga menulis. Hanya saja pada kenyataannya manusia lebih mengoptimalkan saraf berbicaranya. Sehingga saraf menulisnya tidak berkembang secara optimal. Coba perhatikan Anda atau di sekitar Anda. Seorang ibu atau pun Bapak bisa berkata-kata panjang lebar saat mengungkapkan uneg unegnya, kemarahannya. Bapak memarahi anak, istri memarahi suami contohya, dan itu semua jika diconvert ke dalam tulisan akan berlembar lembar jadinya. Atau Bapak ibu guru misalnya bisa ngobrol berjam- jam dengan siswanya ,sampai lupa waktu jam pelajaran habis, padahal materi belum tersampaikan. Ha ha indahnya kebersamaan bersama mereka, pasti hari ini bapak ibu sekarang merindukan suasana kelasnya, covidlah penyebabnya.

Kembali pada topik pembicaraan

 Anda yang masih bersikukuh bahwa menulis itu sulit atau tidak berbakat menulis maka mulai sekarang stop mengatakan seperti itu.  Anda yang tidak bisa menulis pun selagi mampu mengeluarkan kata-kata , dengan kecanggihan alat teknologi maka ketika berbicara sekaligus  akan bisa mengahasilkan tulisan. Bagaimana caranya . Mudah saja  di era digitalisasi apa sih yang tidak bisa. Dengan kecerdasanya  manusia mampu menciptakan alat alat yang bisa memberikan solusi akan permasalahan yang dihadapi manusia. Jadi bagi yang merasa mengalami kesulitan dalam menulis, sekarang sudah tersedia  alplikasi praktis menulis semudah berbicara atau menulis semudah tersenyum .

Apa itu aplikasinya?

Bisa jadi Anda juga sudah mengenal sebelumnya. Aplikasi menulis ini banyak versinya. Ada speechnotes misalnya. Namun bukan itu yang akan saya perkenalkan. Jujur aplikasi ini menurut saya lebih praktis dan tidak ribet dalam menggunakannya. Jadi misalkan Anda ketika di mobil, atau ketika rekreasi atau saat jalan- jalan tiba -tiba dapat ide untuk menulis. maka  aplikasi ini adalah solusinya. Ia bisa menyimpan tulisan semudah berbicara. Anda bisa melakukan pengeditan, mensahre secara langsung  ataupun Anda simpan, melalui aplikasi writer plus.

Bagaimana caranya ?

Ayo ikuti langkah-langkahnya , pertama Anda berkunjung ke Playstore. Kedua cari aplikasi si writer Plus . Ketiga download aplikasinya kemudian install. Keempat klik tanda + di pojok kanan bawah. Kelima cari simbol mikropon, tekan sampai warna hijau toska. Keenam mulailah Anda berbicara, ekpresikan apa saja. Keenam pelajari simbol simbol menu yang ada di pojok kanan atas. Ketujuh simbol titik 3 di pojok kanan atas, pilih sesuai keinginan Anda dan ikuti langkahnya. Jika ingin menshare jangan lupa pilih texs dulu.

Selesai!

Menulis di era digital selancar berbicara. Aplikasi sudah tersedia, signal dan paket data kuncinya. Apa lagi alasannya Anda tidak menulis? Yuk menulis!

 

Salam literasi

Bondowoso, 25072020

Penulis : Husnul Hafifah

 

# trima kasih Ibu sri Melni atas share ilmunya.

#mempraktikan ilmunya.

#Belajar menulis via wag Bersama Om Jay

# Pertemuaan ke-24


Salah Sasaran

 

Menyimak setoran hafalan si bungsu saja di betah -betahkan. Berat rasanya pada kedua kelopak mata, bawaannya ingin mengatup saja. Padahal ingin rasanya untuk istiqomah mengikuti sunnah, minimal surat Al Kahfi tiap malam Jumat. Tak bisa dipaksakan juga. Mungkin kebanyakan asupan karbo penyebabnya saat berbuka tadi. Nasi kuning buatan  adik duet sama ibu, yang disuguhan berbuka tadi. Rasanya nikmat sekali. Sampe lupa diri jika sudah malam tak boleh lagi kebanyakan makan karbo dan kelas berat lainya. Habis gimana lagi sayang mereka sudah bela -belain masak nasi kuning jika tidak termakan.

"Tidur saja dulu lah ma!" , anak jejaka no.2 dengan bijaknya menyarankan. Ok juga sarannya. Bleg set! Tahu -tahu saat buka mata jam dinding sudah di angka 22.30.  Tiga jam terbuai di alam mimpi berlalu seakan begitu saja. Ingat belum sholat isya segera beranjak ke kamar mandi. Wudu, sholat isya dan sekalian sholat malam, lanjut surah Al Kahfi. Semua beres dilalui. Mau lanjut ke  alam mimpi sesi 2 mata masih tak mengantuk lagi. Terlebih ingat akan janji suci, komitmen menulis tiap hari. Hari ini belum terpenuhi.

Kuraih gawai dengan maksud menunaikan janji suci, sambal mikir mau nulis ide apa hari ini. Hati  menuntun untuk membuka wag Rumah Virus Literasi. Biasanya dari sana kutemukan banyak inspirasi. Aha, jemariku berhenti pada sebuah chat berbunyi terima kasih Bapak @Ngainun Naim, sangat mencerahkan. Spontan jari ini mengeklik, dalam pikirku  "wah ini pasti bisa dibuat inspiras". Kok lama sekali  ya, kata tanya dalam hati menyeruak. Apa yang dipikirkan  tak jua muncul . Astagfirullah ! dengan kaget sampai gawai mau lompat. Rupanya bukan blognya yang saya klik. Sadarnya saat mendengar bunyi  dering gawai menunggu panggilan. Begini rupanya jika sensor otak tak berkoordinasi dengan motorik.  Adrenalinku teruji. Panik  berbaur malu yang sulit dilukiskan. Rencana menulis pun berantakan dan bubar. Lari menuju peraduan dalam komat- kamit semoga yang merasa terpencet gawainya tengah malam itu tak salah persepsi. Dan Esok pagi ketika membaca tulisan ini bisa tertawa geli.

Salam literasi!

Bondowoso, 24072002


Menulis Buku Semudah Chating?


 Menulis itu mengespresikan apa yang ada di jiwa, maka ungkapkanlah apa adanya!

Sebagian  orang  mungkin akan meragukan  judul tulisan saya jika tanpa tanda baca. Itulah mengapa sekalian pada akhir judul itu saya beri tanda tanya. Adalah sebuah kewajaran jika Anda meragukannya, saya pun juga sama. Bagaimana menyusun buku yang tulisannya berlembar lembar halaman dianggap semudah chating, menulis satu paragraf saja ampun susahnya. Begitukan kata  hati Anda?

Saya sendiri saja ,juga perlu mikir ekstra untuk bisa membuat tulisan, fokus cari ide, ketemu ide mikir lagi dari mana ya memulainya. Ketemu titik mulanya eh tengah tengah ngadat, mikir lagi , ketemu sambungannya  ternyata perlu berjam jam tuk sekadar hasilkan tulisan 3-5 paragraf. Selesai nulis leganya luar biasa. Benar- benar merasakan eforia bagaimana plongnya lolos dari rumitnya menulis, kesimpulan saya  menulis tidaklah mudah.

 Lalu bagaimana ceritanya tiba- tiba saya mengangkat judul yang sangat bertetangan dengan pengalaman saya ? Rumusnya darimana? Mau tau aja apa mau tau banget? Kasih tau nggak ya? Ok buat yang mau tahu banget ayo lanjut membacanya.

Judul tulisan ini saya copas _hanya ditambah tanda tanya_dari materi Bimbingan Belajar Menulis di;pertemuan ke-21 , pada Jumat malam 17 Juli 2020 lalu. Materi malam itu menurut saya sungguh istimewa. Belajar menulis gratisan namun narsumnya adalah salah satu pemotivator top Indonesia. yaitu Bapak  Amir Faisal adalah Praktisi Bisnis dan konsultan marketing beberapa perusahaan Gogreen Industry. Certified on Creation of Enterprises, International Certified on Dynamic Coaching NLP (Neuro Linguistic Programming), lisenced from California, dengan Coach Syaiful Bahri dan Stefanus Izaac Tamsil, salah satu dari sembilan belas orang di seluruh dunia yang mendapat Lisenced dari Robert Dilt (Developer of The Original NLP), Certified on Persuassive Communication dari Ronny FR ( International Coach Lisenced of Richard Bandler), Certified on Basic Multiple Intelligence dan Certified on Quantum Learning by Bobbi DePorter.  Selain menjadi Business Coach, trainer / praktisi  NLP, juga aktif di Kadin Komite Timur Tengah serta menjadi Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Asprindo.

Hingga kini beliau sudah mempublish 14 buku yang diterbitkan oleh Gramedia Group,  Change, Farisma Publishing dll. Jika pembaca ingin mengenal lebih dekat tentang beliau, inilah contact Person yang bisa dihubungi : 08157698288 WA atau melalui  E-mail : mrfaisal36@gmail.com, dan Fans Page : Klik Trainer Amir Faisal pada modus pencari teman di Face Book.

Faisal Amir bukanlah sosok yang  berlatarbelakang  dunia tulis menulis ataupun dari dunia pendidikan. Namun dia sejak awal adalah profesional marketing dari suatu perusahaan selama 8 tahun lalu risain. Mendirikan perusahan sendiri juga sama 8 tahun lamanya. Merasa lelah dengan pekerjaan di perusahaan sendiri ia kemudian putar haluan. Bekerja sebagai konsultan.

Dunia baru yang ditekuninya membuka kesadarannya, bahwa jika  ingin dikenal banyak orang secara nasional maka ia harus melakukan personal branding. Salah satu cara personal branding adalah melalui tulisan. Ia pun menulis sebuah buku, dan bukunya langsung diterima di penerbitan skala nasional yakni Gramedia. Dalam kurun waktu 2 bulan bukunya laris manis dan best seller. Dan benar saja dari Buku pertamanya berjudul "Menyiapkan Anak Menjadi Juara " akhirnya beliau di kenal masyarakat secara luas, dan karirnya sebagai konsultan kian melesat cemerlang diundang berbagai kalangan untuk memberikan berbagai pelatihan.

Bagaimana Konsep Menulis Semudah chatingan?

Melalui vidieo you tube yang kedua Ia menceritakan bahwa ketika sedang mengikuti pelatihan Leadership bersertifikat Internasional, teman peserta perempuan, seorang Dr. Dosen Fakultas Psikologi menanyakan “Kenapa Anda kelihatan begitu mudah menulis buku, dan bisa lolos di Gramedia, sedangkan saya sudah berkali-kali mencoba menulis buku, tetapi selalu gagal?"

Dari sharing  sang Dosen itu akhirnya Pak Amir tahu bahwa si Dosen dalam menulisnya masih terkunkung dengan berbagai penerapan aturan sebagaimana dunia akademisi yang digelutinya. Seperti kajian teori ilmiah, khawatir tulisannya tidak mencerminkan jika dirinya sebagai akademisi. Opsi yang sarankan  pada sang Dr itu adalah nulis atau fungsi akademisi? "Jika menulis yang menjadi pilihan maka ubahlah  mindset Anda!"

Bongkar Minset Tak PD dalam menulis.

Berdasar sejarah penulisan sejak zamannya Aristoteles dkk, para pujangga, menulis itu bagi mereka merupakan ekspresi jiwa, mengeluarkan beban batin.

Menulis menghilangkan stres "free writting" Kebebasan menulis, menulis tanpa tekanan tanpa ada hambatan apa pun. Lepaskan pikiran anggapan menulis itu sulit! Ubahlah dengan minset bahwa menulis itu gampang.

Praktikkan!

Manusia memiliki batang otak yang bisa terbuka dan tertutup secara otomatis. Ketika ada tekanan syarat di batang otak akan menutup sebaliknya jika happy akan terbuka. Demikian halnya dalam menulis jika kita happy melalukannya maka tulisan yang dihasilkan akan lancar mengalir.

 Manusia secara kodrati sudah dilengkapi dengan syaraf kecerdasan linguistik baik secara oral dan tulisan di tempat yang sama. Hanya saja manusia sering tidak mengoptimalkan keduanya. Manusia cenderung mengotimalkan kecakapan linguistik melalui oral atau berbicara.

Contoh ibu-ibu bisa memarahi panjang lebar suami , anak atau membicarakan orang lain dengan kata-kata. Mulai sekarang stop kemarahan Anda lewat kata-kata, tapi pindahkan ke tulisan/ gunakan jemari. Tuliskan segala rasa dan uneg uneg seperti melakukan chatingan pada wa.

Maka mulai hari ini, menulislah melalui:

1. Ungkapkan hal hal negatif, seperti kemarahan, uneg negatif pada seseorang

2. Ungkapkan hal hal positif atau kebaikan dari orang orang dekat anda, suami, istri, anak, atau kawan   -  kawan Anda.

3.Tulislah impian Anda.

Tuliskan apa saja tentang impian Anda misalkan tahun 2025  menjadi penulis buku terkenal. Ekpresikan ke dalam tulisan Anda sedang melakukan aktivitas apa terkait kesuksesan itu.

Siapapun Bisa Jadi Penulis

Ya, semua orang bisa jadi penulis. Lakukan tips dibawah ini :

               1. Mulai hari ini, Stop Copas, karena itu akan membunuh kreatifitas Anda dalam menulis.
                   2. Jika Anda makan tiga kali sehari, maka buatlah tulisan minimal sehari juga tiga kali.
                   3. Tulis detik ini juga, apa yang ada di kepala Anda, misal tulislah tulisan pendek dengan judul misalnya,  
                       “Kenapa aku minder menulis
                   “Kenapa Aku Merasa Bodoh dan Orang Lain Pintar?”  
                    “Group WA Ini Bikin Bete, Tapi Aku Butuh”
                   4. Upload Tulisan Anda Jika Anda yakin bisa menambah rasa percaya diri dan Passion menulis Anda
                   5. Simpan dan Baca Sendiri jika tulisannya menekan dan membuat Anda kurang percaya diri jika diupload, tetapi
                        sebaliknya bisa menghibur Anda.

Teruslah menulis dan jangan berhenti hingga gen myelin di thalamus menyempurnakan Anda menjadi penulis andal. Hal itu secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya jika Anda sudah mencapai 10.000 jam terbang.

Demikian gambaran mengenai materi menulis buku semudah chatingan bersama Bpk Faisal Amir. Semoga Manfaat. Selamat memraktikkan!

  Penulis Husnul Hafifah 
              ASN Kemanag Kab. Bondowoso