Daring Tak Kenal Liburan

Foto Kedekatan Kakak Adik (dokumen pribadi) 

Hampir pukul 21.30 tadi malam, dua jejaka saya, no.1 dan no.2 datang. Katanya sih memang janjian.  Anak lanang ke -2 yang kuliah di Malang, menjemput anak no.1 yang kerja di Probolinggo. Alhamdulillah, rumah yang serasa sepi sejak si bungsu diantar ke asrama pekan lalu, kini semarak lagi. 

Ruang keluarga, ruang tamu,  dan kamar tidur yang biasanya tertata rapi, hari ini kembali berantakan lagi. Barang bawaan mereka: tas, hp, laptop, carger hp,  carger laptop, roll meter, baju ganti, bergelatakan selengekan. Kilahnya, "Bukti adanya kehidupan".

Benar juga sih, rumah ditinggal penghuninya serasa sepi, tak ada geliat,  tak ada aktivitas. Kedatangan mereka, di sela-sela kesibukannya bertujuan mengobati  kangen pada rumah dan penghuninya, _khususnya ayah bundanya, saudaranya, lalu masakan rumahnya.  

Bagi anak no.1,  tanggal merah hari Jumat, merupakan hari istimewa. Ia bisa pulang dengan mengajukan cuti di hari Sabtunya. Berlibur di rumah cukup panjang, bisa menginap 2 malam. Di samping kondisi covid, dia memang tidak pulang tiap bulan, perusahaannya menerapkan 6 hari kerja. "Jika pulang tiap bulan kecapaian di jalan", pungkasnya.  

Sementara yang no.2, biasanya pulang tiap bulan,  atau kapan saja dia senggang. Apalagi kuliahnya tetap daring, bisa dilakukan di mana saja, dan kapan saja. Seperti yang diceritakan ketika sarapan tadi pagi. Malam ini  pukul 18.00 Ia masih ada UTS.

"Lho kan libur toh le? " 
"Namanya saja daring Ma, tak kenal liburan, yang penting ada jaringan dan paket data, dan dosennya sempat", imbuhnya. 

Sempat? tanya hati saya. Iya Dosen itu kan guru juga. Hanya beda yang dihadapi. Tugasnya mirip -mirip, mungkin lebih banyak dan berat. Mulai membuat perencanaan , pelaksanan, dan penilaian pengajaran. Belum lagi pembimbingan mahasiswa  skripsi/tesis, pendampingan  KKN dan PPL, penelitian, menyusun laporan  penelitian, menulis jurnal dll. 

Belum covid saja tugasnya sudah berat apalagi dengan kebijakan perkuliahan daring,   tugasnya kian berat manakala personnya belum siap dengan IT. Dosen pun juga perlu terus belajar untuk meningkat kualitas diri, sebagaimana halnya dengan guru. 

Pandemi  covid menghancurkan tatanan kehidupan pada satu sisi. Namun pada sisi lainnya membawa kebaikan, mengetuk kesadaran kita semua untuk cerdas menemukan solusi. Bagi para guru, pandemi covid menjadikannya guru terus belajar, terampil menggunakan IT untuk keberlangsungan pendidikan. 

"Bukan masalah sempat tak sempatnya le!", saya berupaya memberikan pengertian. Ada nilai penting yang ingin ditanamkan dosen pada mahasiswa. Nilai itu membentuk sikap mental mahasiswa agar selalu siaga. Mengokohkan pribadi bermental tangguh, supaya tidak cengeng ketika terjun di masyarakat. 

"Lihat itu Kakakmu,  niat pulang mau berlibur, eh kok ya malah tetap bawa kerjaan kantor."

Daring oh daring !


Bondowoso, 2 April 2020
Husnul Hafifah

Buah Kembang Wijaya Kusuma




Penampakan buah wijaya kusuma

Ketika masih kanak-kanak, saya sudah familiar dengan bunga unik ini. Disebut unik mengingat mekarnya sesaat,  dan orang biasanya rela menunda tidur malamnya demi ingin melihat mekarnya sempurna. Bunga ini mekar sempurna dan menyebarkan harum semerbak  sekitar pukul 11 malam. Karena sifatnya inilah maka kembang wijaya kusuma dijuluki si ratu malam (Night Blooming Cereus)

Saya (kecil) dulu,  sering tertidur di kursi saat menunggu, ingin melihat mekarnya wijaya kusuma. Tanaman itu tumbuh liar di samping rumah merambat tinggi pada pohon jeruk bali. 

Bunga Wijaya Kusuma atau dengan nama latin  Epiphyllum anguliger.
Siapa sangka tumbuhan yang sepintas jika dilihat namanya asli Indonesia, nyatanya berasal dari Venezuela,  Amerika Selatan. Konon tanaman ini masuk ke Indonesia  dibawa orang cina. 

Sekitar 4 tahun lalu, saya mendapatkan 1 pot tanaman elegan dan langka ini dari seorang teman. Hanya saja jenisnya berbeda dari yang saya kenal puluhan tahun lalu. Bunga wijaya kusuma yang kutanam di pot gantung pada halaman rumah jenisnya kecil. 

Sejak Januari 2021, sudah beberapa kali kembang wijaya kusuma berbunga. Sisa mekar bunganya juga masih bisa dinikmati hingga pagi hari. Yang membuat takjub, saya menemukan penampakan merah menyala berbentuk bulat telur di sisi daunnya. 

Alhamdulillah ternyata seumur- umur  saya baru  tahu jika bunga wijaya kusuma memiliki buah. 

Bagaimana dengan Anda, sudah tahukan dengan penampakan buah kembang wijaya kusuma?

Bondowoso,  1 April 2020
Husnul Hafifah

Batal



Semenjak putri bungsunya kembali ke asrama, Bu Keyshe dan Pak Key kembali mengarungi kehidupan baru seperti 27 tahun lalu. Perbedaannya hanyalah pada cita-cita. Dulu belum ada momongan yang dikejar momongan. Sekarang anak pertama  sudah cukup dewasa. Sudah waktunya merindukan cucu. Bu Keyshe dan Pak Key sepakat, kehidupan barunya ini akan dijalani dengan pola hidup baru yang sehat,  utamanya sehat dalam pola makan. Cita - citanya sederhana,  ingin terus sehat, panjang ibadah dan saatnya bisa menimang, bermain dengan para cucu. 

Pola sehat yang dirancang diantaranya kurangi karbo, stop gula, stop gorengan. Jam makan terakhir pukul 5 sore. Ngemil malam mie goreng, mie rebus dan bakso juga harus diakhiri. Seperti halnya hari ini,  Bu Keyshe menanak nasi hanya setakar gelas air mineral 200 ml, lauk tahu dan tempe cukup disemur tanpa digoreng. Telur disediakan mentahan, cadangan jika diperlukan. 

Pukul 5 sore, Bu Keyshe diwapri sang ibu agar ke rumahnya yang hanya berjarak 25m di samping rumahnya. Rupanya sang ibu baru saja usai menjamu tamu. Sang ibu pun menyuruhnya agar mengambil makanan, kelebihan hidangannya. Bu Keyshe tak bisa membantah _khawatir durhaka. Lalu ia  pun mengambil 1 lemper kentang goreng rempelo ati,  2 potong ayam goreng dan 2 buah nogosari oleh-oleh si tamu. Bonus 1 kotak paket nasi "ter-ater"(1) sepupunya  yang syukuran. Tak ingin mengecewakan ibu, serta saudara yang tulus memberi,  bersama Pak Key dilahap habislah makanan itu. Komitmen pola makan sehat  di hari pertamanya, senja itu pun dibatalkan. 


(1) ter-ater : hantaran, pemberian


Bondowoso,  29.03.2021
Husnul Hafifah

Talak Tiga





Hati Bu Keyshe girang tidak kepalang, begitu mendengarkan keinginan putrinya untuk kembali ke asrama. Keinginan murni meluncur dari lisan  putri bungsunya. Sebelumnya Bu Keyshe sudah pernah meminta putrinya bahkan ia sudah menandatangi surat pernyataan pembelajaran  tatap muka (PTM). Namun putrinya menolak mentah- mentah. Penolakan putrinya membuat Bu Keyshe galau, bagaimana tidak,  dia akan merasakan beban pikirannya berkepanjangan.

Sejak pembelajaran daring itu putrinya kian lengket dengan androidnya. Hanya tidur,  salat dan mandi saja android lepas dari tangannya. Kemesraan putrinya dengan android kerab menimbulkan cemburu, bahkan tak jarang pula meletupkan emosinya.  Segala persyaratan mulai dari memperbarui pernyataan pesetujuan orang tua, swab antigen, melengkapi administrasi dll.dilakukan Bu Keyshe sesegera mungkin. Antispasi pikiran si bungsu berubah. 

Usai ba'da asar kemarin diantarlah si bungsu ke asrama. Seperti yang diucapkannya ia tak akan menangis dan siap dengan segala konsekwensinya tinggal di asrama. Sesaat akan sampai asrama si bungsu menyerahkan android yang masih dipegang dan dimainkannya selama perjalanan dengan sukarela. Ia memasukkan sendiri pada tas kecil Bu Keyshe.  Melihat moment itu, hati Bu Keyshe haru dan iba. Dirinya seperti merasakan android itu bernyawa, betapa merananya tetiba saja ditalak tiga. 

Bondowoso, 28.03.21
Husnul Hafifah

Monitoring dan Touring

Foto Akses Menuju Sekolah Binaan

Bagian 3

Kali ini saya ingin menempuh  rute yang berbeda. Sekali pun saya belum pernah mencoba alternatif rute lain yang menghubungkan antarsekolah binaan. Setiap mendatangi sekolah binaan saya selalu menggunakan rute yang sama, seperti yang ditunjukkan teman saat pertama kali taaruf  4 tahun lalu. 

Begitu keluar dari gerbang sekolah itu, saya terus mengingat ingat petunjuk  yang diberikan seorang guru, tadi. Saya masih menyimpan sedikit trauma pengalaman tersesat di area persawahan  sekitar 3 tahun lalu. Di kecamatan dengan wilayah yang tidak terlalu luas ini,  menurut akal tak mungkinlah jika salah jalan, tidak akan menemukan jalan pulang. 

Dengan perjuangan, keluar masuk gang area persawahan, toh akhirnya saya masih bisa menemukan jalan pulang. Memang sih keringat  dingin di bawah terik matahari sempat mengucur deras_ sebelum akhirnya pertolongan Allah datang, lewat pencari rumput di persawahan  yang  sepi dan sunyi. 

"Bunda sampai pemakaman nanti langsung ke kanan lurus, ikuti jalan"

Saya pun mengikutinya. Ada sedikit bimbang memang. Beruntung di depan, saya melihat seorang ibu yang sedang bercengkrama dengan putri kecilnya. Saya berhenti sebentar untuk sekedar memastikan jalan yang akan dilalui benar. Anggukan  si ibu itu, sangat berarti dan jauh menentramkan. 

Sengaja motor kubawa dengan kecepatan pelan. Selain belum kenal medan, pandangan bisa leluasa menikmati alam sekitar. Seperti yang disampaikan guru itu, di depan mata terlihat jalanan yang aspalannya terbuka,  batu-batu kecilnya semburat keluar. Akan tetapi tingkat kerusakannya tidak seberapa. Masih ada akses ke sekolah binaan lainnya yang lebih parah dari ini kondisinya.

Paling apes jika tergelincir di sini rok robek. Atau keseringan dan kelamaan melewati jalan seperti ini  ban sepeda motor bocor. 
Naudzubillah,  semoga Allah melindungi dan memberikan keselamatan, menghindarkan diri dari segala marabahaya. Istigfar dan kelindan doa pun turut serta  menemani  perjalanan saya.

Rasanya singkat saja,  tahu tahu sudah sampai ujung jalan. Tepatnya pertigaan. Sejurus kemudian,  mata menangkap tulisan persis seperti yang dikatakannya juga. Dari pertigaan ini saya memilih arah kiri, bertolak belakang dari petunjuk yang dia berikan. 

Kira -kira 500 m kemudian,  saya sadar, jika pilihan saya salah. Saya membawa motor menjauh dari sekolah tujuan. Putar balik. Untungnya masih belum terlampau jauh saat kesadaran itu timbul. Ternyata gang ke sekolah tujuan berada 500 m ke kanan. Inilah akibat jika ngeyel. Minta petunjuk, diberi petunjuk tapi tidak digunakan. Apa ini bagian mengeksplor diri? 

Menyusuri jalan, sepanjang gang ini sudah tak asing lagi. Tak ada perubahan yang berarti walau hampir 1 tahun tak dilalui. Persawahan di kiri kanan mulut gang, deretan rumah-rumah dan pohon sengon yang kian tinggi dan besar, sudah saya lewati. Dari kejauhan terlihat jelas menara masjid yang kokoh dan megah dengan warna sedikit pudar. Di bawah menara masjid itulah area sekolah tujuan berada. 

Keganjilan merasuki gendang telinga,  saat mendekati menara berada. Astaga yang lebih mengejutkan lagi saat mata menatap halaman sekolah. Tenda biru berdiri kokoh menutup sepanjang halaman . Sumber bunyi yang memekakkan gendang telinga _ sound sistem ada tepat di depan pintu masuk area tenda.

Dalam nanar saya berusaha mencari seseorang, yang mungkin bisa memberi informasi.Tak seorang pun saya kenal. Suara soud yang begitu kencang, menutup respon mereka. Tak ada yang peduli dengan kehadiran saya. 

 Semua terlihat sibuk dengan aktivitas masing masing.  Ada yang membersihkan pagar,  memasang pernah pernik hiasan terop,  cek sound sistem, mendekor panggung dll. 
.
Rasa penasaranlah yang membawa kaki melangkah untuk mendekati seseorang. Kukerahkan suara sekuat tenaga, mengalahkan suara musik dangdut yang memekakkan. Saya buka masker agar orang bisa mengenali dan pertanyaan bisa sampai. Yang kutanya hanya menjawab dengan menggeleng dan menunjuk pada seseorang. 

"Bu, ini acara imtihan,  ujian madrasah ditunda  ke hari Kamis,  25 Maret 2021"

Seorang laki-laki berkaos oblong putih berkopiah hitam dan bersarung biru memberi penjelasan,  sambil menunjukkan wa grup sekolahnya. 

"Ini pengumuman dari kepala sekolah", imbuhnya. 

Saya hanya terdiam, memendam rasa yang sama berulang.

 "Ah, sudahlah!"
 

Tegal Pasir,  24.03.2021
Husnul Hafifah

Monitoring dan Touring

Foto dokumen pribadi

(Bagian 2)

Rute untuk menuju lembaga ini ada 2 pilihan. Pertama  memotong perlintasan di depan KUA (tempat saya transit)  langsung lurus ke arah timur,  sampai perempatan jalan menuju Tamanan pilih jalur kiri, menuju jalan arah Bondowoso notok sampai pertigaan pasar Kreongan. Hanya saja akses menuju jalan Tamanan ini jalan banyak yang berlubang.  

Saya memilih rute kedua, jalanan relatif mulus di samping bisa menikmati suguhan alam hutan pinus dengan udara sejuk dan asri serta pemandangan langit biru nan indah. 

Rute kedua ini melewati jalan raya kira-kira 2 km ke utara,  sampai di pertigaan Tasnan pemandian, memotong perlintasan ke arah timur,  terus mengikuti jalan utama hingga pertigaan jalan menuju Tamanan. Selanjutnya pilih jalur ke kiri sampai pertigaan pasar Kreongan. Jarak tempuh rute 1 dan 2 relatif sama jauhnya. 

Saat saya sampai di pertigaan  pasar Kreongan, aktivitas jual beli sudah sepi. Geliat pasar dilakukan pagi hari hingga pukul 8 pagi. Lapak pedagang sayur sudah tutup,  hanya tinggal warung permanen saja yang tetap buka. Dari pasar Kreongan,  saya masuk gang perkampungan. Jalanan sudah beraspal, di kanan kiri dipadati rumah -rumah penduduk. Lingkungan relatif bersih dan rapi, halaman rumah umumnya berhiaskan bunga warna warni. Sepanjang jalan juga banyak gang atau jalan kecil menghubungkan pedukuhan. 

Untuk sampai ke sekolah tujuan, saya harus menghafal gang agar tak salah jalan. Penanda gang menuju sekolah tujuan, pertama adalah area pemakaman besar.  Pada tikungan area makam, di seberang jalan ada gang ke arah selatan. Masuk gang. Begitu masuk gang,  mata langsung mendapatkan suguhan alam yang berbeda. Sisi kiri  sepanjang jalan di penuhi rimbun pohon bambu menjulang. Derik gesekan antarpohon, dan gemercik air yang mengalir di sungai kecil di bawahnya,  sungguh menyentuh relung jiwa. Mengingatkan memori jauh ke masa kanak kanak berpuluh tahun silam. (Mandi, menjaring ikan dengan kain panjang di sumber mata air pancuran bersama teman sepermainan). Alangkah damainya hidup di pinggiran pedesaan. 

Ke luar dari rimbun pohon bambu, sejauh mata memandang, hamparan padi menguning tersaji di kanan kiri jalan. Di depan mulai tampak selingkung rumah penduduk. Persis di depan rumah pertama yang terlihat,   jalan bercabang. Aspalan berganti trotoar dan lebih sempit lagi. Pilih jalan cabang kiri ( inilah penanda kedua bagi saya), 250 m lagi sampai tujuan. Gapura tinggi dan lebar di bawah rumpun bambu itu adalah halaman sekolah yang saya tuju. 

Alhamdulillah, di bawah parkiran motor yang tidak besar itu,  terlhat berapa motor memenuhi  area. Artinya giat sekolah tetap ada,  walaupun di tengah covid 19 yang masih belum mereda. 

Senyum rekah, tersungging di bibir para  guru, saat membalas salam saya. Kepala sekolah pun_ Bu Fitrih  (nama panggilan) ada bersama para guru. Ada yang berbeda dari ruang itu. Penataan kursi tamu, tambahan komputer, serta ruangan yang lebih bersih. 

Monitoring pelaksanaan  ujian bukanlah sesuatu yang baru. Ujian Nasional (sebelum dihapus)  merupakan agenda tahunan sekolah. Semenjak dihapusnya ujian nasional dan dikembalikannya pengelolaan ujian sepenuhnya pada sekolah _kegiatan ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah,  utamanya sekolah kecil dan sekolah swasta.

Mengapa? Pelaksanaan ujian sekolah  kali ini,  rata-rata pertama kali mereka alami. Mengingat tahun tahun sebelumnya sekolah kecil (peserta ujian kurang dari 20 siswa) walau terakreditasi  tidak bisa melaksanakan sendiri. Mereka harus bergabung dengan sekolah lain. Kemandirian sekolah kecil tidak ada. Kali ini sekolah harus melaksanakan ujian secara mandiri. 

Selain itu para guru rata belum memiliki pengalaman yang memadai dalam menyusun soal ujian sekolah. Mengingat UN naskah dan kisi soal dibuat oleh tim pembuat naskah UN,  demikian halnya dengan USBN dan ujian sekolah, ada tim pembuatnya. Guru tidak perlu ribet membuat soal. 

Kekhawatiran tentang pelaksanaan  ujian sekolah akan asal-asalan, terpatahkan, saat saya mengamati langsung, wawancara dengan panitia. Bagaimana mereka mempersiapkan dan melaksanakan ujian, membuat saya salut. 
Walaupun peserta ujian hanya 5 siswa, namun  administrasi ketatalaksanaan ujian sekolah disiapkan dengan baik. 

Dokumen administrasi  mulai dari SK panitia,  job deskripsi panitia,  data peserta,  jadwal ujian,  jadwal pengawas, kartu peserta, berita acara, daftar hadir peserta sudah tersedia dan dokumen yang belum tersedia disarankan agar dilengkapi. Sedangkan kisi dan naskah soal merupakan hasil sharing guru MGMP.  MGMP menyiapkan bank soal,  guru mapel menelaah dan memilih kisi serta soal yang sesuai untuk diujikan sekolahnya.

Pelaksanaan ujian tertib sesuai standar pos ujian sekolah dan memenuhi prokes covid 19, hanya saja maskernya rata salah posisi. 
Berdasarkan catatan monitoring itu, saya memberikan masukan dan motivasi untuk menjadikan sekolah lebih baik ke depannya. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah,  ternyata di madrasah kecil,  yang selama ini dianggap tak berdaya,  ternyata masih punya semangat menyala untuk tetap berusaha mengembangkan sekolahnya. 

Di sela diskusi kecil dengan kepala dan guru yang ada, tetiba seorang guru cantik datang membawa nampan dengan secangkir kopi. Senyum ramah di kulum. Ia akan meletak cangkir kopi pada meja di hadapan saya. Sayang sekali, ini hari Senin. Saya meminta maaf tidak bisa menikmati suguhan yang diberi. 

Tak lama berselang perbincangan pun saya akhiri. Dengan ucapan salam, dihantar para guru sampai halaman, saya pun meninggalkan sekolah itu, melanjutkan touring ke sekolah berikutnya.

Bersambung ...
Kota tape 23.03.2021
Husnul Hafifah

Monitoring dan Touring

foto dokumen pribadi

Senin ceria, mentari tersenyum sumringah, tersembul di balik rerimbun dedaunan nan basah. Jejak hujan semalam masih membekas di reranting,  dedahan dan tanah di pekarangan rumah. Udara sejuk, segar dan semesta pancarkan kedamaian. 

Seperti biasa di jam seperti ini, saya sudah berdandan rapi, siap beraktivitas. Dengan basmalah kunyalakan sepeda motor vario hitam_milik anak lanang kedua. Hati-hati sekali saya menuruni jalan area gerbang depan rumah yang cukup curam. Khawatir  jatuh sempat membias, lantaran rok panjang span, seragam keki yang saya kenakan  mengikat leluasa pergerakan pada kaki.

Alhamdulillah saya lolos di uji nyali pertama, dari rute perjalanan yang akan saya jalani. 500 m ke depan merupakan medan uji nyali kedua_akses jalan kampung menuju jalan raya Jember-Bondowoso. View alam yang indah dan udara segar menjadi penyeimbang kondisi jalanan yang rusak. Batu batu kecil yang menyembul, genangan air berlumpur dan licin, seketika bisa mengelincirkan jika tak ada kewaspadaan dalam berkendara. 

Sekitar 3 menit saja adrenalin berpacu di atas medan itu. Selebihnya jalanan sudah mulus. Perlu disadari jalanan mulus pun bukan berarti tak ada bahaya. Justru sebaliknya bahaya bisa terjadi kapan dan di mana saja. Berkendara  di jalan raya pada jam sibuk apalagi. Berpacu bersama lalu lalang berbagai mobil dan kendaraan lainya. Terkadang semakin menciutkan nyali. Hanya Ikhtiar dan tawakkal kepada Allah saja, hati tertentramkannya.

Aktivitas pagi sebagai ASN,  diawali dengan presensi kedatangan. Waktu menunjukkan pukul 07.27 saat mesin aplikasi face print mengucapkan thank you, thank you,  dan nama saya muncul pada layar. Sejenak saya duduk di kursi besi warna hitam di sebelah meja mesin face print berada. Suasana kantor masih sepi,  namun ruangan yang ada sudah terbuka. Tetiba wanita setengah baya, berbaju daster merah menyala, sambil tersenyum melintas di depan saya. Membawa nampan berisi dua gelas kopi, menuju ruangan yang terbuka. 

Kantor Urusan Agama (KUA) tempat saya face print bukanlah kantor utama tempat saya bekerja. Sebagai pekerja lapangan kantor ini hanyalah tempat transit _ tempat presensi kedatangan  dan kepulangan saja. 

Satu persatu pegawai kantor pun berdatangan. Tak terasa 15 menit sudah berlalu. Saya siap melanjutkan perjalanan menuju sekolah binaan. Hari ini,  ada 2 target lembaga  yang akan saya datangi, dengan agenda utama monitoring pelaksanaan ujian sekolah. Jarak tempuh dari tempat transit ke tujuan pertama itu kira-kira 15 KM lagi. 
....
Bersambung

Bondowoso, 22.03.2021
Husnul Hafifah