Hadiah Kejutan


Pak Ridwan memiliki bisnis penitipan ternak sapi. Sistem penitipannya ada yang  bersifat  musiman seperti momen Idul qurban. Ada juga penitipan jangka panjang dengan sistem bagi hasil. Mutu layanan dan kualitas pengelolaan penitipan sudah tak diragukan. Jejaring customernya cukup luas dari berbagai  profesi dan kalangan. Salah satu customer setianya adalah Pak Kades tetangga sebelah. Sudah 4 ekor sapi limousin jantan yang dititipkan. Kali ini Pak Kades menitipkan 1 lagi sapi betina bunting _ katanya special sebagai simpanan untuk hadiah kejutan pada sang istri yang Insyaallah 4 bulan lagi akan melahirkan.

Ketika  sapi simpanan pak kades melahirkan, Pak Ridwan dengan sigap menelepon si empunya. Sayang tak diangkat. Pak Ridwan lalu meninggalkan pesan  chat wa : " Pak Kades segera ke rumah, simpanannya sudah melahirkan, laki-laki sehat. Ibunya perlu diperiksakan belum doyan makan."

Pagi menjelang siang , 12 November di rumah pak Kades terjadilah keributan. Awalnya tetangga sekitar mengira Bu Kades melahirkan. Ternyata bukan. Pak Kades ditemukan dalam keadaan pingsan, mukanya lebam dengan bibir monyong tak karuan. Menurut kasak kusuk  yang beredar, Pak Kades digampar sendal klompen, sesaat setelah bu Kades membaca chat wa dari Pak Ridwan.

Bondowoso, 12.11.2021
Husnul Hafifah
#tantangan  menulis
#Day5

Label Peti

Demam, batuk, pahit, anosmia, sesak  pcr positif, RSU, IGD, ICU, saturasi turun, ventilator, donor plasma konvalesence, kesadrannya tersedasi, dan kritis. Deret kata ini  seperti copy paste, 2 kali dalam 2 pekan bertengger di wag keluarganya.Deret kata itu berujung dengan kalimat istirja dan meninggalkan duka mendalam.

Malam ini, Dia tak bisa tidur. Dalam kesendiriannya deret kata itu timbul tenggelam di alam pikirannya. Ada rasa gamang. Ia begitu cemas, takut dan khawatir. Ia belum siap bila kalimat istirja itu tertuju padanya. Komat kamit lantunan doa, serta istighfar tak terbilang jumlahnya terus dilafalkan.

Ia pun mencari cara agar bisa keluar dari tempat yang dianggapnya menyeramkan itu. Ia membuang rasa takutnya. Ia pun mengendap, berjalan berjingkat menyusuri lorong bangsal rumah sakit. Kakinya terus melangkah, menjauh dari ruang rawat inap. Sayang jalan yang telah ditempuhnya berujung buntu. Gembok pintu itu mengatup begitu kokoh. Ditebarkan pandangan ke segala penjuru. Di bawah remang cahaya lampu, matanya menyapu dengan jelas tumpukan kotak. Niat kabur makin bulat. Yah dengan bantuan kotak ia pikir bisa kabur melompat dinding itu. Degup jantungnya kencang meronta-ronta , menatap lekat tulisan ditiap -tiap kotak. masing-masing kotak _peti itu sudah berlabel."Tidaaak!" Spontan berbalik arah lari sekencang kencangnya , histeris minta tolong. Badannya terguncang guncang, "Bangun, bangun ma!" Mimpi buruk ya?"
Keringat dingin memburai, mengurai kecemasannya.

Bondowoso, 11082021
Husnul Hafifah

Kemeja Arab


Usai mandi kukenakan kemeja pemberian ibu_oleh-oleh dari tanah suci beberapa tahun lalu. Aku mematut di depan cermin, bersyukur kepada Allah atas karunia kesempurnaan wadak ini. Dalam hati juga mengiyakan ucapan ayah ibuku.  Aku tampan. Aku teringat pesan beliau sesaat aku hendak berangkat indekos, belajar hidup mandiri, kuliah di Malang. "Hati - hati dalam pergaulan, jaga diri, jangan tinggalkan salat berbuat baiklah pada siapa pun", pesan ibu sambil memasukkan kemeja yang kukenankan ini ke dalam tas gendongku.

Hari ini adalah Jumat pertamaku di kosan. Kemarin usai kuliah aku bersama teman sekosan_ Opang dan Bibi, survei mencari masjid terdekat yang ada di sekitaran kosan. Lokasi masjid tidak terlalu jauh, jalan kaki menyusuri gang-gang sempit hanya butuh waktu 5 menit. "Bro  ayo berangkat!" Suara Opang dan Bibi membubarkan lamunanku.

Sesampai di masjid, kami bertiga mendapati  tempat shaf terdepan di pojok kanan dekat mimbar. Alhamdulillah begitu salam dari salat sunnah tahyatal masjid azan berkumandang. Kami duduk khitmad menyimak azan, lalu khutbah. Alhamdulillah hingga pelaksanaan shalat Jumat usai penyakit ngantukku tak menyerang. Lebih lebih ketika aku berdiri hendak pulang. Aku terkaget gelagapan. Tetiba para jamaah, tua -muda  berhambur menuju ke arahku. Berebut menyalami dan menciumi tanganku. Aku hanya bisa melongo. Kulihat imam masjid berdiri hanya sedepa  di dekatku pergi begitu saja. Opang dan Bibi saling pandang menahan geli. Menutup bibirnya dengan sajadah. Aku segera kabur. Kupercepat langkahku menuju kosan. Kuraih androd, kuvicall orang rumah. "Mak gegara kemeja arab yang kugunakan ini, tangan kananku jadi salah sasaran ciuman jama'ah masjid". Di layar androidku kulihat raut wajah wanita paruh baya itu terkekeh.

Bond, 10.11.2021
Husnul Hafifah
#Pentigraf
#Tantanganmenulis
#Day 3

Ujung Pertengakarn


Ujung Pertngkaran

Hujan deras sore itu mulai mereda. Sayup-sayup suara keributan yang singgah ditelingaku, memancing rasa penasaran. Kumatikan kompor  menghentikan proses mengoreng pisang yang tinggal sekali lagi.Aku memburu penasaran, meningkatkan fokus mencari sumber suara keributan.

Rasanya tak percaya, begitu aku mengenali suara itu. Bagaimana mungkin dua sahabat itu beradu mulut dan nyaris baku hantam. Engkus dan Emon  saling curiga , saling tuduh atas kehamilan Beti. "Kau penghianat Ngkus!"Pasti Kau yang telah menghamilinya!" Engkus tak terima atas tuduhan Emon atas dirinya yang masih perjaka 100 persen. Engkus menyergah tudingan Emon dengan tak kalah sengitnya. " Stop!" Lengkingan suara Beti menghentikan adu mulut mereka berdua.

Engkus dan Emon terdiam mematung melihat apa yang terjadi pada Beti. Dalam rintih kesakitan Beti minta agar segera dipanggilkan tuannya. "Alhamdulillah bayi Beti laki laki, gagah ganteng 99% genetik indukannya ", jelas pak Mantri hewan usai memeriksanya. Engkus dan Emon saling pandang. Sadar pertengkarannya percuma. Mereka memang  pejantan, namun tak bisa membuktikan tuannya lebih memilih generasi dari inseminasi buatan.

Bondowoso, 8-11-2021
Husnul Hafifah
#Tantangan Menulis
# Hari 1

  


Mbok Ti


Mbok Ti Kecele


Perempuan tengah baya itu baru semalam datang. Mbok Ti, begitu kesehor nama panggilannya. Ia berniat lepas kangen  dengan rumah tinggal, keluarga dan kerabatnya. Maklum saja   dua tahun tak bisa mudik tersebab pandemi. Sejak pemberlakuan lockdown, pembatasan sosial berskala besar( PSBB), Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) yang terus mengalamai perpanjangan hingga berlevel. Tak ayal ijin cuti yang diberikan juragannya tuk pulang kampung selama seminggu dimaanfaatkannya semaksimal mungkin.

Usai menikmati sarapan pagi bersama anak dan cucu yang menempati rumahnya, Mbok Ti pamit hendak menggilir mengunjungi para tetangga sekitar rumah,tak ketinggalan juga menjenguk sahabat karibnya Mak Yas _saat keduanya  berjualan sayur di pasar. Rumahnya di pojokan paling ujung masuk gang samping rumahnya. Mbok Ti sempat terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Betapa waktu 2 tahun begitu banyak memberi perubahan di kampung sekitarnya. Sepanjang jalan kampung terlihat bersih dan asri. Teras rumah tetangga sekitar penuh bunga aneka warna. Mbok Ti sempat ragu saat melangkah menuju teras tetangganya. Keraguan pupus begitu sambutan hangat dari balik pintu rumah riuh menyapa. Mbok Ti tak bosan, meladeni dengan riang pertanyaan yang intinya sama _bak foto kopi dari tetangga yang dikunjungi. Suasana akrab masih sama kendati 2 tahun mereka tak bersua.

Hari semakin siang, sinar matahari mulai menyengat, namun target Mbok Ti untuk menuntaskan kunjungan pada tetangga hari itu juga, tak menyurutkan langkahnya. Ia pun lanjut bertualang. Di depan gang menuju rumah Mak Yas, Mbok Ti melihat teman SDnya_Kang Narto hansip desa, yang tengah asyik ngobrol dengan seorang Polisi. Di balik kaca mata plus minus yang tebal, Kang Narto dengan baju hansipnya masih terlihat gagah. Dalam girang suara Mbok Ti pun  kalah lebih cepat dibanding langkahnya. Dengan lantang menyapa Kang Narto, mengajak ngobrol walau jarak masih berapa langkah. Merasa yang di ajak bicara hanya melongo di balik kaca mata hitamnya. Mbok Ti mengeraskan volume suaranya, dalam hatinya menduga mungkin pendengaran sang mantan rusaknya kian  parah. " To iki aku Suryati kon wes lali tah? Laopo caring, masio jaga keamanan warga iku ngiup oja panas panasan!" Mbok Ti nyerocos sambil menyalami Kang Narto. Ooalah bibir Mbok Ti mengatup seketika saat wadak berbaju hansip yang disalami hanyalah gombalan dan kain perca. Di kejauhan Mak Yas terkekeh melihat tingkah sahabatnya.

Bondowoso, 20.10.2021
Husnul Hafifah
#pentigraf

Usai Hujan



Usai Hujan

Tempias air hujan dari reranting pepohon sepanjang jalan, siang itu temani perjalanan pulangku. Ini kali kedua, jelang sebulan giat PKKM. Begitu akan usai agenda hari ini  tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Alhamdulillah walau hujan lebat namun tak lebih dari 1 jam lamanya.

Ada yang berbeda dari perjalanan pulang hujan pertama dan hujan kali ini. Hujan pertama masih kentara dengan khas hujan di musim kemarau. Hujan hanya mengguyur di daerah tertentu saja. Usai hujan langit kembali cerah, bahkan di daerah yang tidak hujan, sinar matahari terasa sangat menyengat di kulit wajah.

Hujan kedua lebih merata, walau sudah reda, mendung pekat masih melingkupi langit. Genangan air hujan  pada daerah tertentu menutup ruas jalan. Membasahi sepatu dan rok yang kukenakan. Tak hanya itu, sampah- sampah yang menimbun di selokan, menyumbat saluran. Debit air yang meluber ke jalan raya, sisakan serakan sampah  merusak pemandangan.

Hujan sangat dirindukan saat daerah mulai kekeringan, tetumbuhan dan remputan kerontang  kehausan. Kedatangan hujan adalah anugrah, pembawa keberkahan dan kelangsungan kehidupan alam semesta.

Selamat datang hujan, teriring doa:
“Allahumma shayyiban nafi’an."
Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat

Bondowoso, 27102021
Husnul Hafifah
#sisa hujan


Duplikat Kenangan


Duplikat Kenangan

Rasa penasaran  pada Syzyngium (nama latin dari Jambu air) yang kutanam di samping rumah  sudah berlangsung 5 tahun. Aku sendiri yang membeli bibit dan menanamnya. Pada batang pohon jambu air yang masih sebesar kelingking ibu jariku tercantum ID card. Memang ID card itu sekarang sudah tidak ada, lapuk tergerus hujan. Namun tulisannya terekam dalam ingatan. Penampakan buahnya yang merah menyala, walau hanya sebuah bukan hanya menunaikan rasa penasaranku. Tetapi sekaligus membawaku pada kenangan masa kanak kanak berpuluh tahun lalu.

Aku kelas 3 SD, dan adikku baru kelas 1. Suatu ketika, kala pulang sekolah kami berdua bermain di pekarang rumah. Pekarangan itu luas dipenuhi aneka tanaman dan pepohonan. Di tengah asyik bermain mata kami tertuju pada rimbun buah jambu air merah menyala. Entah bagaimana ceritanya adikku tiba -tiba sudah nangkring di atas pohon, seraya memberi aba-aba agar aku menangkap jambu yang dilemparkan kannya.

Baru beberapa tangkapan, kami dikejutkan suara tak asing yang begitu dekatnya. "Kakek!", kataku, gugup sambil menoleh ke sumber suara.  Kakek sudah berdiri tak jauh dariku sambil mengacungkan rotan pada adikku. Menyuruh agar segera turun. Gugup dengan kedatang kakek, adikku bukannya turun, malah menangis terisak sambil mengulang kalimat yang sama, memberi tahu jika tak bisa turun. Lalu kakek mengambil tangga memberi pertolongan. Degup jantung kami tak karuan dan gemetaran. Terbayang cabukan rotan akan bersarang pada betis kami. Ternyata kami salah duga. Kami berdua tak jadi dirotan malah kakek yang akhirnya memetikan jambu air. Tergiang kata kakek saat kami menikmati jambu.
" Sekali lagi ketahuan anak perempuan manjat pohon, akan kakek rotan" Syzygium di samping rumah pagi ini tak seperti ID cardnya, ia hanyalah duplikat kenangan.

Bond, 3.11.2021
Husnul Hafifah